Full-time freelancers

6 bulan lalu saya bergabung dengan sebuah perusahaan lokal dengan klien dari beberapa negara tetangga, mostly australia dan juga dari negara paman sam, ada beberapa hal yang saya suka seperti how they paid me well, and disclipined work hours. Ini penting karena kalau kamu baca pengalaman saya sebelumnya, disiplin jam kerja itu susah, apalagi untuk pekerja remote yang notabene rumah sudah jadi layaknya kantor. Sering kali bisa lupa waktu “pulang”.

Sebenarnya sejak minggu pertama kerja sudah terasa bahwa saya gak akan betah lama, karena ada banyak hal yang berbeda yang saya pikir hal yang wajar, proses move on selalu tidak mudah. Tapi makin kesini semakin banyak hal yang membuat saya merasa bahwa saya gak cocok dengan culture kantor dan ada beberapa masalah yang belakangan muncul dan menjadikan saya fix bertekad bulat untuk resign di awal bulan maret ini tadi.

Kalau kamu sudah berkeluarga dan punya buah hati yang masih kecil, kamu pasti tahu bahwa resign dari kantor tanpa ada rencana kemana akan berlabuh berikutnya adalah sama dengan bunuh diri. Beruntung saya terbantukan dengan beberapa side project yang sedang berjalan dan beberapa ada yang sudah masa closing, sehingga cukup memberi “modal” untuk beberapa bulan kedepan. Saya juga terbantukan dengan beberapa klien dari upwork yang suka dengan hasil kerja saya dan memberikan long term contract.

So what next?

Untuk jangka pendek, saat ini saya memilih fokus freelancing mengerjakan beberapa project yang sudah deal, karena uda gak kepotong jam kerja saya lebih punya banyak waktu buat pengerjaan, doing it fast, deliver faster, get payment, and go for holiday as soon as posible.

Sedangkan untuk jangka panjang, saya pikir saya akan memanfaatkan jam kerja freelancing untuk sharpen and getting new skills, harapannya sih bisa membantu step up the game, naik level ke level kerja yang lebih worth.

Tapi dari pengalaman temen-temen ‘seprofesi’, kebanyakan programmer (yang berkembang) cuma punya 2 tujuan hidup, berakhir jadi freelancers selamanya atau jadi business owner entah di bidang lain atau paling minim bikin web shop sendiri, biasanya sih malah keduanya.

Yang jelas dari dulu sudah memang penasaran, dan kepengen untuk full-time freelancers untuk ngejar work-life balanced. Ini bukan masalah keren-keren-an, ini masalah freedom, terutama freedom dalam masalah menentukan jam kerja, karena para pekerja kreatif pasti tau bahwa mood dan semangat untuk menghasilkan karya gak datang straight 8 jam. Terkadang ada kalanya di masa suntuk yang biar ngotot seperti apa yang dihasilkan cuma lelah tanpa hasil. Kadang kalau lagi onfire gak perlu waktu lama untuk menyelesaikan banyak masalah. Saya melihat ini bakal jadi kesempatan buat menjalani rasa penasaran saya, tinggal ntar di lihat, berapa lama bisa bertahan dengan bekerja as full-time freelancers.

Anyway, kalau kamu butuh SDM lebih buat segala macam aplikasi berbasis web, selalu bisa kontak saya 😉

4 Replies to “Full-time freelancers”

  1. Sukses bro buat new journey nya, salam kenal. Kalau boleh sharing dikit soal “freedom in freelancing”, buat gue freelancing itu justru belajar disiplin yang sebenarnya karena kebebasan ada ditangan sendiri, bukan karena dipaksa oleh rules. Banyak godaan untuk procrastinate dan bisa jadi banyak interruption kalau work from home (Istri, anak, bantuin ini itu mumpung dirumah, dll).

    But, if you do it well, it’s rewarding 🙂

    1. Yep, bener, lebih disiplin, tapi lebih fleksible dan terkontrol (karena kalau ‘bandel’ ya tanggung sendiri resiko nya 🙂 ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *