6 bulan full-time freelancing, ini yang saya rasakan

Melanjutkan post saya sebelumnya, tanggal 1 maret kemarin saya mulai full time freelancing. Sebenarnya statusnya sih masih belum full, karena masih sebagai karyawan tapi memang sudah masa-masa resign, sampai 10 hari kemudian beneran resign. Sebelum-sebelumnya saya juga sudah mulai freelancing, tapi lebih sekedar side-job, dan setelah kemarin resign, saya memutuskan gak nyari kerjaan resmi dulu, mau merasakan kehidupan full-time freelancer.

Dalam 6 bulan ini, ada banyak hal dan kejadian yang baru kerasa dan terjadi setelah merasakan langsung full-time freelancing, Beberapa menarik dan positif, namun tentunya gak semua hal bisa nyaman sesuai maunya kita.

1. Mesti nyari projek sendiri

Ini tentunya yang paling kerasa di awal, karena sesuai pengalaman saya di kantor sebelum-sebelumnya, biasanya kerjaan datang dari PM atau pak bos langsung di kantor, kali ini saya mesti nyari sendiri. Upwork masih jadi jalan terakhir buat nyari projek, saya bersyukur gak pernah sampai kehabisan atau sampai menggunakan 50% quota jatah bid kerjaan untuk dapet projek. Sisi gak enaknya, beberapa waktu lalu upwork merubah sistem fee nya, yang kerasa banget efeknya buat freelancer yang baru mulai di upwork. Untungnya sebagian besar client di upwork biasanya setelah selesai projek atau bahkan berbulan-bulan setelah projek, bakal menawarkan untuk lanjut ke projek lain, yang kadang terjadi di luar upwork.

Selain dari upwork, saya bersyukur masih ada beberapa temen yang me-referensi kan saya untuk mengambil beberapa projek untuk dikerjakan. Saya juga sempet tergabung dalam beberapa startup, yang dari sisi ekonomis nya, saya bisa dapet stabil income.

2. Lebih fleksibel mengatur waktu

Fleksibel ini bagai 2 sisi pedang, bisa jadi untung, bisa jadi buntung 😀

Pertama, yang positif nya dulu, Saya lebih enak mengatur waktu misal ada keperluan lain di luar, atau memang lagi pengen jalan-jalan ama istri dan anak, saya gak perlu ijin atau malah kabur tanpa ijin dengan perasaan berdosa karena korupsi waktu. Saya hanya perlu memindah dan membagi waktu yang harusnya kerja ke waktu yang lain. Dan jalan-jalan di weekday itu menyenangkan loh!

Lalu, yang “gak enaknya”, kemungkinan untuk overtime itu besar banget, karena ya gak ada jam pulang kerja. Apalagi kalau lagi multi-deadline, deadline dari beberapa kerjaan barengan, beuh. tanya istri saya deh 😀

Namun, overtime ini biasanya saya manfaatin untuk ngejar target supaya esok harinya saya bisa istirahat full seharian, atau ya jalan-jalan tadi. kecuali beneran hectic banget. 🙂

3. ‘Dapet’ sesuai apa yang dikerjain

Ini salah satu yang paling kerasa dan pertimbangan lebih untuk tetep full-time freelancer. Kalau bahasa freelance yang sudah pro, ini disebut kemerdekaan mengatur penghasilan, misal lagi ada kebutuhan lebih, berarti mesti buka dan nerima kerjaan lebih banyak dan selesein lebih cepet, supaya cepet closing projek. Atau kalau lagi ‘sejahtera’ bisa lebih longgar nerima kerjaan, gak perlu merasa makan gaji buta, dan dapet banyak waktu senggang supaya bisa di alokasikan ke kegiatan lain.

Beberapa catatan

Ada beberapa hal lain yang jadi catatan saya, dan mungkin jadi pelajaran untuk yang akan terjun full-time freelancer, antara lain

1. Freelancer perlu modal

Seperti di post saya sebelumnya, saya sudah menyiapkan segala hal untuk full-time freelancer. modal disini yang paling nyata adaah modal dari finansial karena gak ada jaminan bakal langsung dapet kerjaan dan pembayaran di bulan-bulan awal.

Lalu modal skill, karena untuk start freelancing, bakal banyak ketemu saingan freelancer lainnya bahkan jika menggunakan channel seperti upwork maka saingannya bertambah dari penjuru dunia. Pada kondisi seperti ini cuma ada 2 cara untuk bertahan, turunin harga (yang berarti kamu perlu ekstra sabar, dan modal finansial yang kuat buat nutupin kebutuhan sehari-hari mu) atau naikin skill dan kualitas supaya menonjol dari yang lain.

2. Gak selalu enak

Kerasa banget dalam 6 bulan ini, gak selalu enak, bisa di bilang saya hanya menikmati di bulan pertama dan kemduian 2 bulan belakangan ini, ditengah-tengah, kerasa banget kerja kerasnya, berat dan ribet. Masalah-masalah seperti kerjaan yang molor dan jadi menumpuk berujung ke pembayaran yang di pending dan seterusnya. fuh.

Dan yang paling gak enak adalah ketika ditanya ‘kerja dimana?’ mending kalau yang nanya dari kalangan millennials, kalau yang nanya lebih berumur biasanya bakal susah memberikan penjelasan yang bisa diterima.

3. Treat like business

Ini baru saya sadari sejak bulan terakhir ini, sebelumnya as freelancer, saya mah taunya cuma cari projek, kerjakan, dan dapet bayaran, sudah. Akhir-akhir ini saya mulai tersadar setelah nimbrung-nimbrung di berbagai grup freelancer online (beberapa yg oke : /r/freelance, dan freelance stack exchange), saya mulai fokus pada bagaimana caranya supaya saya sebagai frelancer, bisa scaling and growing up.

Salah satu langkah awal adalah membuat report berkala supaya bisa terlihat perkembangannya, yang paling mudah dan nyata adalah melakukan report detail cash flow, nah sayangnya saya kepedean, saya pikir bank (dalam hal ini saya menggunakan BCA) sebagai money gateway saya, bakal menyimpan semua log history, tapi ternyata gak, kita hanya bisa melihat transaksi hingga 30 hari terakhir, sehingga saya gak bisa menghitung dan melihat perkembangan selama 6 bulan ini dengan data yang real.

Conclusion,

Selama 6 bulan ini, bisa dibilang saya belum mencapai level nyaman dan sukses dari sisi finansial, it’s so so lah dibanding kerjaan dikantor sebelumnya. Sedangkan dari sisi happiness saya merasa lebih bahagia, saya bisa mengatur waktu lebih bebas sehingga bisa mengobati atau menghindari kejenuhan kerja di saat yang dibutuhkan. Saya mau bilang kebahagian bisa bebas memilih tempat kerja, sehingga saya bisa berkerja di rumah sambil bermain dengan anak atau kegiatan rumahan lainnya, tapi memang sebelum-sebelumnya saya kerja remote, jadi ya sama aja.

Di sisi lain, sisi karir, saya merasa jauh lebih produktif dan lebih berkembang karena lebih banyak kasus nyata yang ada di lapangan, saya mulai fokus dengan produktifitas kerja, karena ya kalau kerja nya tertunda-tunda atau gak beres-beres ujungnya pembayaran di delay atau bahkan di suspend, duh.

Kalau ditanya apakah terpikir untuk balik kerja secara ‘official’ ? saat ini belum, saya terlanjur keenakan menikmati freedom dari freelancing, bukan berarti saya gak mau kerja dengan peraturan, beberapa projek yang saya kerjakan juga mengharuskan saya mentaati perarturan seperti jam kerja dan kehadiran, laporan kerja, dan peraturan layaknya karyawan pada umumnya, bahkan beberapa lebih ketat. Hanya saja saya masih banyak melihat tempat kerja yang konvensional yang menganggap karyawan adalah karyawan, bukan sebagai manusia yang berkembang. Sehingga saya belum tertarik untuk kerja secara ‘official’.

Btw, Saya lebih memilih sebagai partner, so kalau kamu lagi ngerjain atau lagi ada projek web, kamu bisa konsultasi dan diskusi dengan saya lebih lanjut 😉

5 Replies to “6 bulan full-time freelancing, ini yang saya rasakan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *