workplace

Benefit dari kerja remote

dipublikasi pada tanggal: 21/9/2017

Tulisan ini berdasarkan pada salah satu pertanyaan di grup Facebook Kami Kerja Remote. Sebagai catatan, konteks dari pertanyaan dan jawaban dibawah adalah dari sisi karyawan / pekerja. Saya belum membahas dari sisi perusahaan.

Btw, untuk yang belum familiar dengan kerja remote, bisa baca artikel sebelumnya disini.

Sebelumnya, saya memulai kerja remote pada salah satu tempat kerja saya di Bandung, sebuah software house yang tadinya sih saya kerja secara onsite bahkan nginep di kantor. 1 tahun kemudian saya menikah dan meminta opsi kerja remote yang sebenarnya sudah di di sounding sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Beberapa tahun kemudian saya resign dan bekerja untuk perusahaan lain, di Jakarta, Sydney, dan New York dan tentu saja semua dilakukan secara remote dari rumah saya di Samarinda.

Setelah semua itu, apa sih Benefit dari kerja remote?

Saya gak kuatir kehilangan waktu bersama anak dan istri.

Jadi karena kerja tanpa harus pergi kekantor, maka saya bisa bekerja dari rumah, entah rumah saya apa rumah ortu atau mertua, dimana saya bisa lompat dikit untuk nemuin anak istri saya, main-main bentar sambil nyari ide kreatif, lalu balik lagi kekamar tak berpintu untuk melanjutkan pekerjaan.

Kalau ada apa-apa dengan anak saya maka saya tinggal celinguk dikit.

Tentunya ini lebih baik lagi jika dikombinasikan dengan flexible working hours

Menghindari kebosanan kerja

Seberapa baik pun ruangan kerja di kantor mu, kalau setiap hari Senin-Jumat (atau weekend juga? :p) berbulan-bulan atau bertahun-tahun pastilah bosen juga.

Oleh karena itu, dengan kerja remote tanpa harus pergi kekantor, saya bisa bekerja dari mana saja, misal ajak anak istri nge-mall, biarin mereka main dan saya balik kerja di salah satu pojok kafe. Atau malah ngikutin lifestyle digital nomad, dimana kamu kerja tapi sambil traveling. Paling minim, kalau bosen saya bisa setup kamar kerja saya sendiri sesuai keinginan.

Mencari pekerjaan yang sesuai

Ditempat saya tinggal, mencari pekerjaan / project yang sesuai dengan skill saya agak susah, kalaupun ada maka penghargaan yang diberikan agak kurang sesuai. Nah kerja remote membantu saya menemukan dan melakukan pekerjaan yang sesuai (dari minat, bakat dan juga bayaran tentunya) dari kota mana saja bahkan negara mana saja, tanpa harus re-lokasi atau pindah tempat tinggal.

Salah satu joke antar pekerja remote adalah “tinggal di desa penghasilan metropolitan” sangat menggambarkan benefit dari kerja remote.

Tentu saja selalu ada positif dan negatif dari sistem kerja remote. Diatas tadi adalah beberapa benefit yang saya rasakan, untuk negatif nya akan saya bahas di artikel lain deh.

Ah iya, pastikan kamu tidak mensalah-artikan kerja remote dan freelancer 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

erricgunawan says:

erricgunawan says:

Ah, gak semua emoji keluar ternyata

Yoga Sukma says:

Lah gimana sih mas ahaha

Galih says:

Mirip dengan yang saya rasakan, alhamdulillah sudah kerja remote selama setengah tahun.

Yoga Sukma says:

late reply, wah sekarang gimana? masih kerja remote?

Galih says:

Masih mas. Alhamdulillah, sudah setahun sebagai karyawan fulltime remote. Mungkin nntinya ingin membuat usaha sendiri, krn kebetulan cita saya kepengen punya software house sendiri.

Bima says:

Apakah Kerja Remote itu harus dengan cara hire/kontrak dengan terikat waktu? atau hanya per project?

Yoga Sukma says:

Tentu saja tergantung yang memberi kerjaan.. 🙂 .

Kerja remote itu bukan tentang kontraknya, tapi tentang lokasi pekerja vs lokasi kantor, apapun jenis kontraknya.

febi says:

Saya saat ini malah lagi bosen kerja remote, pengen kerja full time di kantoran. Pengen punya pengalaman kerja secara tim. Biar bisa dapet ilmu dan relasi baru. Karena saya gak punya latar belakang desain, rasanya skill saya hanya mentok disitu2 aja karena mengerjakan kerjaan yg itu2 aja