Review Buku: Stop Thinking Like a Freelancer

Ini adalah review dari buku berjudul “Stop Thinking Like A freelancer” yang ditulis oleh Liam Veitch. Si Om Veitch ini adalah seorang freelance web designer yang tadinya bekerja secara freelance, kemudian jadi karyawan fulltime, kemudian balik jadi freelancer lagi. Berdasarkan pengalaman tersebut, menurut Veitch, kebanyakan freelancer hanya memandang pekerjaannya sebagai “hobi” yang dibayar, bukan sebagai bisnis yang berjalan layaknya sebuah perusahaan. Oleh karena itu, freelancer mesti berevolusi, menaikkan level, agar tidak menghadapi masalah yang sudah sering dihadapi freelancer lainnya.

Di dalam Buku ini Veitch menjelaskan 5 fase evolusi seorang freelancer untuk menjadi “freelancer yang lebih baik”. Saya merangkum 5 fase tersebut sebagai berikut:

Lanjutkan membaca “Review Buku: Stop Thinking Like a Freelancer”

Mengirim notifikasi email ketika komentar balasan baru dibuat

Saya baru sadar bahwa ternyata WordPress tidak mengirimkan notifikasi ketika seseorang membalas komentar pada suatu artikel. Admin websitenya sih dapat email notifikasi bahwa ada komentar baru masuk, tapi si pemberi komentar sebelumnya bakal tidak tau kalau ada yang memberikan balasan atau respons pada komentarnya, walaupun yang memberikan balasan adalah si admin website.

Jadi saya buat plugin sederhana yang punya tugas sangat sederhana,  mengecek kalau ada komentar baru masuk yang berupa balasan pada sebuah komentar, maka akan dikirim email notifikasi ke pemilik komentar sebelumnya.

Lanjutkan membaca “Mengirim notifikasi email ketika komentar balasan baru dibuat”

kamu sibuk atau sok sibuk?

Salah satu resolusi saya tahun ini adalah bekerja gak lebih dari 20 jam seminggu. Ide nya, dengan membatasi jam kerja tersebut, saya akan lebih fokus dan mengerjakan apa-apa yang memang worth buat dikerjakan. Idealnya, 20 seminggu itu bisa di capai dengan kerja maksimal 4 jam selama 5 hari, umumnya bakal bekerja senin sampai jum’at dengan masing-masing selama 4 jam, dan libur di hari sabtu dan minggu. Nah, kali ini saya ingin me-review pencapaian saya tersebut dibulan Januari kemarin.

 

Berdasarkan hasil time tracking menggunakan toggl, selama bulan Januari kemarin saya “bekerja” selama total 57 jam dan 11 menit. Kalau dibulatkan jadi 58 jam, lalu di bagi dengan 23 hari kerja selama bulan januari, maka rata-rata perhari saya bekerja selama 2.5 jam!. So secara goal, ini sudah tercapai nih, setidaknya untuk bulan januari. Berdasarkan data tersebut, ada kesimpulan yang saya pikir jadi catatan buat saya.

Lanjutkan membaca “kamu sibuk atau sok sibuk?”

Halo 2018

Ah, minggu pertama di tahun 2018. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya telah membuat resolusi atau lebih tepatnya goal yang ingin saya capai di tahun ini. Membuat resolusi itu gampang men, masalahnya adalah pada kebanyakan kasus, resolusi hanya berakhir sebagai catatan awal tahun, setelah itu gak kedengaran gemanya hehe.

Lanjutkan membaca “Halo 2018”

Mengevaluasi jam kerja menggunakan time tracking apps

Kalau kamu adalah seorang freelancer, terutama hourly based freelancer, pasti sudah familiar dengan time tracking apps. Intinya time tracking apps adalah aplikasi yang digunakan untuk mencatat dan mengukur berapa banyak waktu yang kamu habiskan untuk melakukan suatu kegiatan. Nah, biasanya hourly based freelancer akan menggunakan time tracking apps untuk mencatat berapa banyak hours yang mereka habiskan lalu mengkonversi nya menjadi invoice untuk dikirim ke klien mereka. Walaupun akrab dengan hourly based freelancer, sebenarnya time tracker bisa digunakan untuk keperluan lebih luas oleh semua orang.

Saya pernah merasakan bekerja menggunakan time tracking apps, baik ketika masih jadi karyawan, ketika itu si kantor mengharuskan karyawannya untuk menginstal software yang berupa time tracking apps + screen recording, tujuannya jelas untuk mengukur performa karyawan (walaupun lebih terkesan seperti memata-matai karyawan, sigh), pernah juga ketika sudah fulltime freelancer karena saya sempat pikir hourly based project adalah sistem kerja yang paling fair untuk bekerja. Dari 2 pengalaman tersebut, saya merasakan bahwa sebenarnya time tracking apps bisa dipakai untuk keperluan lain, mengungkap seberapa efisien kita bekerja, dan menjadi benchmark bagaimana kita bekerja bahkan sampai mengurangi kemungkinan burn out.

Lanjutkan membaca “Mengevaluasi jam kerja menggunakan time tracking apps”