Review Buku: Stop Thinking Like a Freelancer

Ini adalah review dari buku berjudul “Stop Thinking Like A freelancer” yang ditulis oleh Liam Veitch. Si Om Veitch ini adalah seorang freelance web designer yang tadinya bekerja secara freelance, kemudian jadi karyawan fulltime, kemudian balik jadi freelancer lagi. Berdasarkan pengalaman tersebut, menurut Veitch, kebanyakan freelancer hanya memandang pekerjaannya sebagai “hobi” yang dibayar, bukan sebagai bisnis yang berjalan layaknya sebuah perusahaan. Oleh karena itu, freelancer mesti berevolusi, menaikkan level, agar tidak menghadapi masalah yang sudah sering dihadapi freelancer lainnya.

Di dalam Buku ini Veitch menjelaskan 5 fase evolusi seorang freelancer untuk menjadi “freelancer yang lebih baik”. Saya merangkum 5 fase tersebut sebagai berikut:

Lanjutkan membaca “Review Buku: Stop Thinking Like a Freelancer”

Flexible Working Hours

Kalau ditanya, apa yang paling menarik dari bekerja as freelancer (dalam hal ini programmer freelance), maka saya akan menjawab kebebasan memilih jam kerja AKA Flexible Working Hours. Beberapa orang mungkin bakal menjawab kebebasan untuk bekerja secara remote, dimana bisa bekerja secara bebas dimana saja. Tapi saya beruntung karena sempat merasakan bekerja pada digital agensi dan webshop dari bandung, jakarta, sydney, bahkan florida dimana semuanya mengijinkan saya untuk bekerja secara remote walaupun sebagai karyawan, sehingga kerja remote bukanlah hal baru lagi bagi saya. Flexible Working Hours adalah hal yang benar-benar baru dan menyenangkan yang saya rasakan ketika memulai fulltime freelancer.

Seperti ditulis diatas, Flexible Working Hours adalah kebebasan untuk memilih jam kerja. Sebagai freelancer, saya bisa memilih kapan saya harus bekerja, bisa di pagi hari, siang hari, malam, apapun tanpa ikatan dan keharusan untuk standby 9 to 5, atau 8 jam straight. Tentu Saja ini gak bisa diberlakukan untuk semua jenis profesi, tapi sangat memungkinkan untuk pekerjaan yang sifatnya kreatif (pekerja kreatif) yang tidak langsung berhubungan dengan user/klien/masyarakat.

Lanjutkan membaca “Flexible Working Hours”

Tips untuk freelancers

Seperti yang sudah diketahui, saya bekerja secara freelance dengan berbagai macam clients, baik secara individu, agensi, ataupun institusi secara serius sejak maret 2016 lalu. Sebenarnya jauh sebelum-sebelumnya sejak awal mengenal dunia web development di tahun 2010-an saya sudah memulai freelancing, tapi hanya sekedar sambilan, mengisi waktu, side project intinya gak pernah sampai serius. Ternyata memang sangat berbeda rasanya ketika freelancing sebagai side project atau malah kerja tambahan dengan freelancing sebagai pekerjaan utama.

Sebelumnya saya juga pernah menulis tentang pengalaman saya 6 bulan awal saya freelancing, ada banyak pelajaran yang saya dapatkan. Tapi seperti kata para freelancers yang sudah pro, 1-2 tahun di awal freelance itu memang masih masa gonjang-ganjing, semua nya masih proses sampai ntar 3 tahun, baru agak stabil. Stabil di bawah atau stabil diatas :D.

Lanjutkan membaca “Tips untuk freelancers”

6 bulan full-time freelancing, ini yang saya rasakan

Melanjutkan post saya sebelumnya, tanggal 1 maret 2016 kemarin saya mulai full time freelancing. Sebenarnya statusnya sih masih belum full, karena masih sebagai karyawan tapi memang sudah masa-masa resign, sampai 10 hari kemudian beneran resign. Sebelum-sebelumnya saya juga sudah mulai freelancing, tapi lebih sekedar side-job, dan setelah kemarin resign, saya memutuskan gak nyari kerjaan resmi dulu, mau merasakan kehidupan full-time freelancer.

Dalam 6 bulan ini, ada banyak hal dan kejadian yang baru kerasa dan terjadi setelah merasakan langsung full-time freelancing, Beberapa menarik dan positif, namun tentunya gak semua hal bisa nyaman sesuai maunya kita.

Lanjutkan membaca “6 bulan full-time freelancing, ini yang saya rasakan”

Full-time freelancers

6 bulan lalu saya bergabung dengan sebuah perusahaan lokal dengan klien dari beberapa negara tetangga, mostly australia dan juga dari negara paman sam, ada beberapa hal yang saya suka seperti how they paid me well, and disclipined work hours. Ini penting karena kalau kamu baca pengalaman saya sebelumnya, disiplin jam kerja itu susah, apalagi untuk pekerja remote yang notabene rumah sudah jadi layaknya kantor. Sering kali bisa lupa waktu “pulang”.

Sebenarnya sejak minggu pertama kerja sudah terasa bahwa saya gak akan betah lama, karena ada banyak hal yang berbeda yang saya pikir hal yang wajar, proses move on selalu tidak mudah. Tapi makin kesini semakin banyak hal yang membuat saya merasa bahwa saya gak cocok dengan culture kantor dan ada beberapa masalah yang belakangan muncul dan menjadikan saya fix bertekad bulat untuk resign di awal bulan maret ini tadi.

Lanjutkan membaca “Full-time freelancers”