Review Buku: Stop Thinking Like a Freelancer

Ini adalah review dari buku berjudul “Stop Thinking Like A freelancer” yang ditulis oleh Liam Veitch. Si Om Veitch ini adalah seorang freelance web designer yang tadinya bekerja secara freelance, kemudian jadi karyawan fulltime, kemudian balik jadi freelancer lagi. Berdasarkan pengalaman tersebut, menurut Veitch, kebanyakan freelancer hanya memandang pekerjaannya sebagai “hobi” yang dibayar, bukan sebagai bisnis yang berjalan layaknya sebuah perusahaan. Oleh karena itu, freelancer mesti berevolusi, menaikkan level, agar tidak menghadapi masalah yang sudah sering dihadapi freelancer lainnya.

Di dalam Buku ini Veitch menjelaskan 5 fase evolusi seorang freelancer untuk menjadi “freelancer yang lebih baik”. Saya merangkum 5 fase tersebut sebagai berikut:

Fase #1 : Get evolution ready

Poin pertama buku ini adalah masalah mindset. Kebanyakan freelancer merasa puas dengan keadaan yang ada. Dapat projek, kerjain, kelar, selesai kemudian dibayar, semuanya terlihat baik-baik saja. Tapi pernah kepikiran gak bahwa freelance adalah tentang “freedom“, apakah saat ini sebagai freelancer sudah merasakan “freedom” ini? bagaimana perasaan ketika dikejar-kejar deadline? atau ketika pembayaran telat? atau ketika lagi gak dapat projek? atau ketika si klien mulai demandly? dan berbagai macam masalah lainya.

Kalau ada banyak perasaan gak enak tersebut, maka ada 2 solusinya, pilihannya antara sudahan aja, gak usah maksain freelancing-an, atau “berevolusi”, menjadi freelancer yang lebih baik.

Key points dari chapter ini adalah tentang menyusun goal-goal apa saja yang ingin dicapai sebagai freelancer, menyusun target dengan waktu yang jelas, termasuk juga memikirkan ulang apa sih alasan utama memilih bekerja secara freelancing?. Sebenarnya sederhana, tapi untuk berevolusi, kita perlu target-target jelas sebagai check point untuk menentukan dan memantau apakah kita sudah berkembang atau belum.

Fase #2 : Repel bad apples, attract dream clients

Ada banyak freelancer yang mengeluh tentang klien yang “susah bekerja sama”, deadline gak masuk akal, brief gak jelas, projek yang bayarannya sangat minim. Menurut Veitch, sebenarnya ini bukanlah salah si klien, yang salah adalah si freelancer. Bisa jadi malah si freelancer yang menarik perhatian “Bad Clients“, dan saya setuju tentang ini.

Bad Clients datang kepada freelancer, kemudian si freelancer memberikan penawaran budget, timeline, dan segala macam spesifikasi. Lalu terjadi tawar menawar, dan pada akhirnya si freelancer punya hak untuk menolak mengerjakan projek tersebut, tapi pada kebanyakan kasus, ujung-ujungnya dikerjain juga, dan ketika jadi masalah, itu bukan salah klien (paling tidak, tidak sepenuhnya), itu salah si freelancer.

Agak terkesan kejam memang, tapi ya bener, Bad Clients datang karena tertarik dengan si freelancer. Si freelancer mungkin punya “kharisma” yang sayangnya malah menarik perhatian Bad Clients, dan si freelancer tidak bisa mendeteksi atau bahkan sengaja membiarkan masuk dengan alasan “mumpung ada yang nawarin projek”.

Biasanya, Bad Clients punya circle Bad Clients juga, jadi setelah selesai dengan salah satunya, Bad Client lain akan datang dengan rekomendasi Bad Client sebelumnya, begitu seterusnya. Pada tahap itu, si freelancer terlalu sibuk berurusan dengan Bad Client, sehingga menutup celah kemungkinan masuknya “Dream Clients“. Itulah kenapa penting banget mendeteksi dan sebisa mungkin menghindari Bad Clients sejak awal.

Fase #3 : Multiply exposure, build your platform

Chapter ini berfokus pada meningkatkan eksistensi freelancer dengan cara membangun personal branding yang baik, meninggalkan jejak-jejak online dan offline yang bisa menuntun calon klien menemukan si freelancer.

Ini terdengar biasa saja, tapi sebenarnya tidak sesimple itu. Bisa saja tinggal posting di sosial media “yang butuh jasa web development, hubungi saya” tapi kemungkinan yang terjadi adalah malah menarik perhatian Bad Clients, lagipula apakah Dream Clients bakal muncul dan nge-hire setelah melihat postingan random di internet atau sosial media?

So instead of promosi obral habis-habisan, Veitch menyarankan cukup melakukan exposure pada target yang jelas. Temukan tempat dimana para Dream Clients berkumpul, berbaur, lakukan branding dengan cara yang “sesuai selera” dan menarik perhatian para Dream Clients.

Fase #4 : Level out the income roller-coaster, build predictability

Seperti judul chapternya, chapter ini banyak membahas tentang masalah paling pokok dan sangat dikuatirkan oleh para freelancer, roller-coaster income. Layaknya roller-coaster, kadang diatas kadang dibawah banget dan terjun bebas :D. Hal ini sangat sering terjadi terutama untuk para freelancer yang mendapatkan pendapatan dari projek ke projek, yang mana kadang gap antar projek cukup jauh.

Dalam chapter ini, Veitch memberikan beberapa alternatif untuk menjaga roller-coaster tetap pada jalur yang “nyaman”. Salah satunya adalah dengan mengubah mindset Eksekutor alias pekerja menjadi “Partner“. Tidak sekedar mengerjakan tugas yang dikomando, Partner juga memberikan masukan, memberikan ide, berbagi pengetahuan, dan paling penting menjaga komunikasi dan relasi dengan klien. Eksekutor adalah tenaga kerja yang bisa tergantikan, Partner tidak.

Solusi lain selain menjadi Partner adalah mengerjakan side project, membangun produk yang bisa dimonetasi. Produk disini bisa jadi sebuah SaaS, buku, video, kursus online, apapun yang bisa memberikan extra income ketika belum ada projek yang dikerjakan.

Fase #5 : Loosen the reins, work less, earn more

Ini adalah chapter akhir dimana poin nya adalah bagaimana mengurangi jam kerja namun penghasilan tetap berjalan. Hal ini bisa dilakukan dengan meningkat efisiensi kerja diri sendiri, bisa juga dengan menggunakan software automasi untuk mengerjakan beberapa hal yang bukan tugas utama, dan tentu saja meng-hire orang lain sebagai “tangan tambahan”.

Kebanyakan freelancer mengerjakan semua hal sendirian, ya jadi marketing, ya jadi akuntan, ya jadi programmer, designer, CS dan lainnya. Padahal hal-hal tersebut bisa dibagi-bagi dan diserahkan kepada yang lebih ahli, sehingga si freelancer bisa fokus pada bidang yang dikuasai dengan begitu akan ada banyak waktu yang bisa diselematkan.

Kesimpulan

Ada banyak poin yang bisa diambil dan diterapkan dari buku ini, hal-hal simpel seperti menentukan goal, repelling bad clients, dan juga exposure pada target, waktu dan tempat yang tepat benar-benar memberikan momen “oo iya juga ya” ke saya pribadi, karena memang bagaimana mungkin saya bisa melewatkan hal-hal sederhana namun penting seperti itu.

Buku ini bagus dan sangat rekomendasi untuk para freelancer yang masih baru masuk dunia freelancing atau masih so so lah seperti saya, atau yang sudah Pro tapi gak merasakan “freedom” sebagai freelancer juga cocok baca buku ini sebagai selingan minum kopi :).

Link:

  1. Liam Veitch
  2. Buku di Amazon

Suka dengan artikel diatas?

Setiap akhir pekan, saya membuat artikel singkat beserta beberapa link terkait dengan topik freelancing, kerja remote, productivity, modern work and life, self improvement dan juga seputar web development. Tertarik? masukkan email mu pada form dibawah ini:

4 Balasan untuk “Review Buku: Stop Thinking Like a Freelancer”

    1. Ahaha, point nya bukan “berapa” mas, karena pada dasarnya mau dapat 10 atau 100 klien, as freelancer yang single fighter tetep aja yang dikerjain cuma 1 per waktu 🙂

      Pointnya, sekarang sudah gak terlalu sibuk dikejar-kejar kerjaan yang gak worth buat dikerjain 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *