Ha, video ini (atau blog ini kalau prefer versi teks) menunjukkan “IoT”, “Smart things”, dan hal lain sejenisnya sering kacau banget.

Singkatnya, si Jeff beli pencuci piring, dan berfungsi dengan baik, tapi fitur tambahan seperti jeda cuci, atau cuci berulang, gak bisa diakses kecuali mengkoneksikan mesin cuci nya ke internet via wifi dan diakses via App di smartphone.

Padahal itu cuma mesin cuci piring, segala fitur itu gak perlu internet.

Saya juga sebagai “Anak IT” (tapi memang sepertinya yang aware masalah ini cuma “Anak IT”), lebih prefer perangkat tradisional, contoh smartwatch, saya lebih prefer jam tangan biasa, lebih awet, lebih simpel, saya punya Mi band dulu, tapi gak bisa dipakai karena sudah gak support App Mi terbaru.

TV, saya prefer TV tradisional daripada TV internet, tapi saya takut semakin nanti semakin sedikit barang yang sifatnya tradisional tanpa koneksi internet.

Internet dan “Smart” things itu bagus, tapi gak semua hal perlu di Internet-in, banyak hal yang bisa kok tetap dilakukan tanpa internet seperti yang sudah-sudah, boleh ditambahkan fitur internet kalau memang fitur yang membantu dan tambahan dan sifatnya opsional, bukan fitur basic disembunyikan di internet, yang mana kalau gak konek jadi gak fungsi.

Today, we’re excited to announce AI Labyrinth, a new mitigation approach that uses AI-generated content to slow down, confuse, and waste the resources of AI Crawlers and other bots that don’t respect “no crawl” directives. When you opt in, Cloudflare will automatically deploy an AI-generated set of linked pages when we detect inappropriate bot activity, without the need for customers to create any custom rules.

https://blog.cloudflare.com/ai-labyrinth

Cloudflare baru buat fitur baru namanya AI Labyrinth, seperti namanya, fungsinya adalah untuk bikin labirin buat ngejebak, dan mempelajari AI untuk deteksi yang lebih baik disaat yang sama juga menghabiskan resource AI visitor karena mereka akan terjebak di labirin ini.

Jadi sistemnya Cloudflare akan menginject link di website yang mana link teresbut hanya akan muncul kalau pengunjung website memiliki beberapa tanda awal bahwa pengunjung tersebut adalah AI, kalau mereka bener akses link tersebut maka sudah hampir dipastikan beneran AI, dan Cloudflare akan menampilkan halaman yang sama sekali gak ada kaitannya dengan website kita, dan terus menampilkan link sehingga AI akan terus muter-muter aja di halaman palsu yang juga dibuat dengan AI generator.

Jadi ya AI vs AI.

Saya suka banget ini, karena ya bener deh, AI scrapper itu gak tau sopan santun, beneran ambil semua data website semaunya. Sebelumnya juga tagihan server saya naik 30% gara-gara dapat banyak pengunjung yang padahal pengunjng tersebut adalah AI bot scrapper.

GFX100RF, kamera baru dari Fujifilm yang masuk kategori super super pokoknya, “rata kanan” istilah gamer.

Saya gak akan beli sih, bisa beli kamera jadul 8-10 tahun lalu aja syukur :D, saya belum merasa perlu kamera canggih untuk sekedar foto dokumentasi keluarga 🙂

Tapi kalau sudah ngobrolin Fujifilm, ya saya tetep ngikutin, dan seperti kebanyakan produk, ketika rilis dan masa embargo selesai, media dan youtube langsung penuh dengan video review, termasuk ya GFX100RF ini.

Dari sekian banyak review, Channel GxAce juga ternyata rilis video, dan berbeda dengan kebanyakan Youtube reviewer, GxAce ini video nya selalu cinematic, dari semua sudut video, beneran berasa nonton film. Penulisan skrip nya juga, setiap kalimatnya kerasa puitis dan thoughtful, dan saya suka penggambaran kamera GFX100RF menurut GxAce adalah “Fixed limitations combined with hidden flexibility“, beneran sangat on point dan singkat menggambarkan kamera ini.

Kalau mau liat review versi beneran alias standar review kamera, tentu saja channel PetaPixel, tapi untuk orang seperti saya yang gak terlalu pengan tau detail karena ya gak beli ini, mending ke GxAce, paling gak dapat tontonan video cinematic :).

https://ohhelloana.blog/in-defense-of-unpolished-websites/

Today’s heavily optimized websites have largely killed the “view source” learning experience. The code is minified, bundled, and often incomprehensible to beginners trying to understand how things work.

Eh iya, inget dulu waktu baru belajar web, download website semudah ctrl+s, terus modif kasar, nyobain ganti kode satu persatu, rubah warna, rubah dimensi ukuran, font, semua ya dipelajari dengan cara sederhana seperti itu sampai paham maksudnya.

Sekarang hal seperti itu sudah susah untuk dilakukan karena terlalu banyak teknologi yang digunakan dan malah bikin bingung untuk orang yang baru mau masuk ke dunia pengembangan website.

Dapet mainan baru, sudah lama banget mencari aplikasi untuk desain rumah, tapi biasanya berbayar, dan mahal pula. Ternyata ketemu ini Sweet Home 3D, aslinya berbayar kalau install via App Store, tapi di websitenya ternyata bisa download gratis.

Lalu habis itu download asset di 3DWarehouse, tapi secara default pun saya rasa asset nya sudah cukup untuk keperluan basic, download cuma untuk keperluan khusus (saya pengen cari pintu kaca geser, dan jemuran!).

Jadilah ngedesain rumah sendiri ala-ala, belum ada niat bangun beneran, cuma desain aja, memvisualisasikan ide yang selama ini bingung ceritainya, sehingga dengan adanya desain 3D gini bisa keliatan dan enak diobrolin sama istri 😉

Another amazing video from Mark Rober, video ini aslinya punya 2 tema, dan dua-duanya menarik, tapi punya 1 kesamaan yaitu kekuatan LiDAR yang wow, keren banget.

Bagian pertama bagaimana Mark menggunakan LiDAR untuk memetakan terowongan Space Mountain Disney Park dengan gaya humor ala Mark, yang mana keren dan hasilnya juga mengejutkan, bisa sedetail itu.

Lalu bagian kedua bagaimana LiDAR bisa membantu membuat mobil yang aman, yang bahkan mengalahkan Tesla yang selama ini dikenal sebagai mobil pintar.

Tapi serius deh itu kenapa bisa ya Tesla dibohongin pakai lukisan jalan ala Coyote di Roadrunner 😀 saya kira Tesla mesti lebih aware untuk hal begituan.

  1. Gojek dan Grab akan memberikan bonus Lebaran berupa uang tunai kepada mitra pengemudi. Namun, Garda Indonesia tetap berencana demo pada Mei karena bonus tersebut didasarkan pada keaktifan mitra dan menuntut kesamaan besaran bonus.
  2. Garda Indonesia, yang sebelumnya berdemo pada Februari, menuntut pengurangan biaya aplikasi, khususnya program Aceng (Gojek) dan Slot (Grab) yang dianggap merugikan pengemudi. Program Aceng disebut menetapkan tarif rendah bagi pengemudi sementara konsumen membayar lebih tinggi.
  3. Pengemudi mengeluhkan sistem Slot Grab dan yang serupa di Gojek membuat akun Reguler sepi order, serta berpotensi mendapatkan order di lokasi yang jauh dari domisili pengemudi.

https://katadata.co.id/digital/startup/67cfa4efeb6b8/gojek-dan-grab-sepakat-beri-thr-uang-tunai-asosiasi-ojol-tetap-akan-demo-lagi

Saya tertarik dan penasaran dengan berita THR untuk Ojol ini. Karena sebagai orang luar, saya mengerti situasi kedua pihak, baik driver dan provider.

Driver tentu ingin THR, karena ya, siapa yang gak, ya kan?

Provider tentu ingin mengubah THR menjadi BHR (Bantuan Hari Raya), karena ya mereka merasa dan memang sebenarnya, Driver adalah mitra, tidak memenuhi syarat menerima THR seperti kebanyakan karyawan tetap.

Selain masalah kemitraan tadi, menurut saya, gimana cara paling fit untuk menghitung THR seorang driver ojol. THR kan umumnya adalah sebesar gaji 1 bulan untuk pekerja yang bekerja 1 tahun. Bagaimana cara menghitung besaran THR untuk driver ojol yang sistem kerjanya fleksibel dan pendapatan berbeda tergantung keaktifan driver? itu masalah juga.

Lalu pemerintah ikut turun tangan, alih-alih berfokus pada sistem kemitraan dan hak driver, pemerintah fokus ke top of cake, THR. Pemerintah mungkin lupa, nilai THR itu gak kecil, terutama dari sisi perusahaan, kalau disuruh tiba-tiba menyediakan dana dalam waktu dekat seperti ini karena ya menjelang hari raya, ya kacau juga.

Peraturan yang mendadak padahal punya impact besar seperti ini yang saya melihat jadi hal kurang menarik dari sisi investor.

Tapi dari sisi lain, dari artikel diatas, saya juga belajar tentang Aceng dan Slot, yang mana terdengar seperti provider memang mengambil terlalu banyak porsi profit driver, yang mana ini lebih menarik dan worth untuk diperjuangkan jika memang benar.

Secara overall, posisi Driver dan Provider ini memang beneran tipikal love-hate relationship, gak suka, tapi tetap milih bertahan walaupun merasa diperlakukan tidak nyaman.

Movie night kali ini habis nyelesein Series ini, A Good Girl’s Guide to Murder, yang bercerita tentang remaja yang menyelidiki suatu kasus pembunuhan sebagai tugas atau penelitian untuk masuk ke perguruan tinggi.

Jujurnya gak ada yang spesial, tapi tema penyelidikan ala detektif gini memang selalu bikin penasaran walaupun pada akhirnya gak ketebak banget pelakunya karena penulis cerita membuat kita fokus kepada karater-karakter yang salah.

Pasti ada satu karakter yang sangat mencurigakan, ternyata bukan, nanti mucul 1 lagi sudah seperti bener, ternyata bukan, di series ini juga gitu, tapi tetap aja bikin nungguin tiap episode.

Cuma memang karakter utamanya terkesan terlalu OP, bisa menemukan fakta-fakta ini padahal kepolisian gak bisa menyelesaikan masalah ini, padahal yang dilakukan karakter utama gak ada yang spesial, hanya saja kebetulan semua suspect pelakunya adalah circle pertemanan sehingga lebih mudah bagi dia untuk mencari benang merah, walaupun tetap ragu bagaimana kepolisian gagal.

Rating 3 dari 5, watchable, buat tontonan santai saja, bukan sesuatu yang wah, tapi tetap bisa dinikmati.

Saya senang banget nonton galeri foto ini, mendengarkan fotografernya menceritakan setiap fotonya, melihat komposisi hasil fotonya, pov dari fotografer, jarang banget saya melihat foto-foto terus merasa “wih, beneran bagus”.

Saya juga suka konsep “face-less” fotonya, dalam projek foto galeri ini foto tanpa muka juga menambah kesan misterius dibalik orang-orang yang terlibat dalam pameran senjata, tapi konsep “face-less” ini juga saya pakai untuk foto-foto keluarga saya.

Dalam mengambil foto keluarga saya tentu saja kebanyakan tampak wajah, karena ya keperluan dokumentasi pribadi, tapi lebih dari itu untuk keperluan publikasi di Instagram atau di blog ini, saya juga mengambil foto dengan menutupi sebagian wajah dengan objek lain disekitar, sama seperti foto-foto Nikita di galeri ini.

Nikita membuktikan bisa kok foto seru dan “artsy”, tanpa harus menampilkan wajah 100% seperti kebanyakan “street photographer”.

Menarik ini inovasi dari Xiaomi, Xiaomi Modular Optical System.

Jadi dia ada alat yang tampak seperti lensa kamera, terus ditempel dibelakang handphone dan itu akan membuat kemampuan kamera meningkat pesat.

Tapi kalau ditelisik lagi, ini agak “cheating” gak sih haha, itu “lensa” sebenarnya adalah kamera, ya beneran kamera, dengan sensor M43. Jadi beneran sensor kamera dengan beneran lensa, terus punya koneksi langsung ke smartphone via lubang beneran lubang jadi bisa koneksi langsung ke sistem internal smartphone.

Ini pada dasarnya sama seperti pegang smartphone dan kamera, lalu habis jepret fotonya dikirim langsung ke smartphone entah via bluetooth, wifi, atau sd card, nah si xiaomi ini via direct connection pada lubang nya itu.

Kalau dibandingin dengan kamera biasa, smartphone xiaomi disini berfungsi sebagai LCD monitor pada kamera, dan juga sebagai penerima hasil foto yang kemudian bisa diolah atau dishare langsung via smartphone.

Sensor yang digunakan adalah micro four third atau dikenal sebagai M43 yang mana itu sebenarnya masih dibawah APSC camera apalagi Fullframe tapi kalau dibanding kebanyakan smartphone jelas jauh banget, karena kebanyakan smartphone bahkan gak sampai 1inch sensor.

Tetap saja ini inovasi yang dahsyat karena sistem ini akan memiliki sensor yang memadai, lensa yang baik, ditambah software dan pemrosesan di smartphone yang gak ada di kamera manapun. Jadi seperti gabungan kamera + smartphone dan diambil nilai positifnya saja.