Tentu saja semua orang apalagi “Nakama” sedang hype ke One Piece Live Action season 2, saya baru nonton beberapa episode awal dan wow, season 1 is okay, tapi season 2 ini beneran naik level banget.

Tapi dari sekian banyak video “behind the scene” Live Action ini, saya ketemu dan paling suka video 1 ini, tentang kostum yang digunakan dalam serial tersebut, dan detail yang diberikan benar-benar luar biasa. Bahkan ada banyak hal yang saya baru sadar kalau di versi manga nya memang didesain seperti itu.

Namanya juga manga, Oda menggunakan kreatifitas yang luar biasa untuk membuat banyak karakter desain yang jujur saja kadang aneh, dan somehow tim kostum ini bisa merealisasikan dalam bentuk fisik. Kudos untuk tim kostum ini.

We’ll miss the feeling of holding code in our hands and molding it like clay in the caress of a master sculptor. We’ll miss the sleepless wrangling of some odd bug that eventually relents to the debugger at 2 AM. We’ll miss creating something we feel proud of, something true and right and good. We’ll miss the satisfaction of the artist’s signature at the bottom of the oil painting, the GitHub repo saying ā€œI made this.ā€

https://nolanlawson.com/2026/02/07/we-mourn-our-craft/

Saya merasa nostalgia, ya awal mula saya belajar programming dulu sekali, terus lanjut sampai lulus kuliah, kerja, saya masih menikmati setiap bari kode yang saya ketik. Kalau sudah ketemu suatu solusi dengan logik menarik itu jadi kepuasan tersendiri.

Tapi jujur saja, saya sudah tidak berada di umur itu, umur saat ini mengharuskan saya lebih cepat selesai, kadang juga mengerjakan hal yang berulang, “coding” di malam hari atau weekend bukan lagi atas dasar hobi dan ketertarikan, melainkan pekerjaan yang kalau bisa saya hindari karena harus berbagi waktu dengan keluarga.

Mungkin suatu hari nanti akan ada masa dimana saya kembali menikmati segala proses koding, pencarian bug, penemuan solusi, logika menarik, tapi untuk sekarang, saya memilih cepat selesai dan menugaskan AI Coding Agent untuk membantu saya menyelesaikan koding pekerjaan saya.

Kesampaian juga nonton Papa Zola setelah pertama rilis Desember 2025 lalu di Malaysia, akhirnya rilis di Indonesia 23 Januari kemarin, dan hasilnya melebih ekspektasi, fun banget film nya. Rasanya gak ada jeda, dari awal sampai akhir seru dan menarik.

Saya suka cerita, alur dan penyampaiannya, bahkan joke nya, bisa menangkap dan menghibur usia dewasa dan anak-anak, tidak terlalu anak-anak sehingga orang tua jadi males memperhatikan tidak juga terlalu dewasa dimana bikin anak-anak jadi tidak menangkap maksudnya, karena jujur aja kebanyakan animasi lokal biasanya kurang dibagian ini.

Gak salah kalau film ini mengalahkan Avatar dan Zootopia dari segi penayangan di Malaysia sana, penasaran di Indonesia bagaimana, karena harusnya oke sih. Sayangnya rilis nya di Januari, coba rilis desember seperti di Malaysia kemungkinan akan lebih banyak penonton karena seperti di Malaysia bakal bertepatan dengan libur sekolah yang biasanya sukses.

Ini maaf-maaf ini, tapi kalau review saya pribadi, Papa Zola > Jumbo, itu bahkan tanpa memperhitungkan animasi nya, murni dari cerita, alur dan penyampaiannya. Lebih asik berfantasi dengan dunia simulasi dan alien daripada melawan mafia tanah dengan bantuan roh penasaran.

Tesla kills Autopilot, locks lane-keeping behind $99/month fee

Now, if you buy a new Tesla and Ā want it to steer itself—while you pay attention to the road—you will have to pay for FSD. Until the middle of February, that can be done for a one-time fee of $8,000. But starting on February 14, that option goes away, too, and the sole choice will be a $99/month FSD subscription.

https://arstechnica.com/cars/2026/01/tesla-wants-recurring-revenue-discontinues-autopilot-in-favor-of-fsd

Ha, Tesla yang sudah dikenal sebagai pionir mobil autopilot (bisa didebat, tapi Tesla bikin jadi populer), membuat update dimana sekarang mobil mereka gak autopilot lagi, untuk bisa menggunakan autopilot mesti beli “add on” seharga $8000 sebelum 14 Februari, setelah itu jadi subscription bayar bulanan $99!

Bayangin beli mobil yang khusus autopilot tapi fitur autopilotnya subscription, kalau gak bayar subscription jadi mobil biasa. lah aneh.

Ini lah yang disebut dengan “enshittification“, yang artinya mengubah sesuatu yang tadinya baik-baik saja, malah diupdate supaya makin jelek kecuali melakukan pembayaran ekstra, yang mana fitur ekstra tersebut tadinya bukan gratis tapi ya memang fitur utama. Menariknya lagi, link artikel enshittification yang saya link itu mengambil contoh dari Twitter, jadi ada kesinambungan disini dengan Elon Musk. Doi sepertinya pakar dibidang enshittification produk.

All of these $10/month apps are suddenly a weekend project for me. I’m an engineer, but I have never written a single macOS application. I’ve never even read Swift code in my life, and yet, I now can get an app up and running in a couple of hours. This isĀ crazy.

https://rselbach.com/your-sub-is-now-my-weekend-project

Sama seperti sebelumnya, Micro App. Pada dasarnya dengan bantuan AI, akan ada banyak aplikasi buatan sendiri yang akan menggantikan aplikasi-aplikasi kecil yang berbayar atau apalagi subscription.

Idenya, kalau memang perlu aplikasi untuk kegiatan harian, tapi lelah dengan subscription yang kadang dirasa gak sebanding, yaudah buat aja sendiri.

Ide seperti ini sebenarnya sudah umum sejak lama, tapi ya walaupun programmer dan punya skill buat bisa bikin sendiri tentu saja belum tentu punya waktu dan ya menurut pengalaman saya mood dan semangat sangat berpengaruh untuk keberlanjutan mengerjakan suatu aplikasi apalagi untuk keperluan sendiri.

Jadi sepertinya dan harusnya, akan ada banyak aplikasi self-made untuk kebutuhan sendiri, mungkin beberapa yang bagus akan di-monetize ulang jadi SaaS lagi, yang akan bikin SaaS makin susah persaingan karena ya semakin banyak pembuatnya.

Here’s what I’ve noticed since then: the heyday of social media feels like it’s behind us. In my opinion, Facebook peaked in 2008. Back then, it was about connecting with friends, sharing actually interesting updates about our lives. Minimal ads. It felt genuine.

Now? Wannabe influencers everywhere. More ads and brand accounts in your timeline than content from people you actually know. Bots running campaigns to get engagement through false things or distortions of reality. It’s exhausting.

https://danielleheberling.xyz/blog/mindful-social-media

Iya bener banget, media sosial dulunya itu beneran update yang personal yang ya masih asik buat tetap berhubungan dan koneksi ke teman-teman yang dekat maupun yang jauh secara jarak, supaya tetap silaturahmi istilahnya.

Setelah itu berganti ke era “content creator”, dimana postingan berasa (dan memang) iklan, atau ya tidak genuine lagi, belum lagi algoritma sosial media sekarang mereka berlomba untuk memasukkan konten dari akun-akun lain yang bahkan kita gak tau tampil di feed kita karena algoritma merasa postingan tersebut relate dengan kita atau lingkungan kita, yang mana memang bener, tapi jadi echo chamber.

Tapi walaupun begitu, ada beberapa hal yang masih bisa saya ambil manfaat dari sosial media, walaupun sudah bukan sesuai tujuan “sosial”. Saya masih menggunakan facebook untuk mencari barang di group jual beli lokal, atau cari informasi kafe atau suatu tempat wisata di Instagram biasanya mereka lebih update.

I’m calling it now: if 2025 was the year of “vibe coding,” 2026 is going to be the year of “micro apps.” It’s the year a meaningful number of people begin to solve their own problems by building custom software tailored specifically to their needs. These apps might not be ready for the mass market, but that’s okay because they’ll be perfect for the individual who created them.

https://birchtree.me/blog/2026l-the-year-of-micro-apps

Setuju banget, setelah 2025 testing sana-sini main-main dengan LLM untuk semi vibe code, tahun ini bakal banyak Micro Apps, alias aplikasi mini yang dibikin untuk kebutuhan sendiri, sama seperti mainan saya di Labs, aplikasi-aplikasi tersebut dibuat bukan untuk siapa-siapa tapi ya buat saya sendiri, sesuai kebutuhan saya sendiri.

Saat ini pun sudah ada beberapa list mainan micro apps yang mungkin akan saya lanjutkan buat. Ada LLM gini apalagi sudah langganan 1 tahun sayang banget kalau gak digunakan.

Ruben Amorim has departed his role as Head Coach of Manchester United.

The club would like to thank Ruben for his contribution to the club and wishes him well for the future. Darren Fletcher will take charge of the team against Burnley on Wednesday.

https://www.manutd.com/en/news/detail/ruben-amorim-departs-role-as-head-coach-of-man-utd

Oh ya ampun, Ruben Amorim sudah tidak lagi jadi manajer kepala pelatih untuk Manchester United!

Ini agak surprise, tapi memang after match interview sabtu kemarin, memang agak tendensius, fans cuma bisa menerka-nerka apa yang terjadi dibelakang layar dan ternyata begini hasilnya.

Harus diakui, permainan Manchester United 1 tahun kebelakang dibawah Ruben Amorim gak meyakinkan, Klub mengakhiri season berada di posisi 15, cuma 2 level diatas zona degradasi, kalah di semifinal EL dan memberi kesempatan Tottenham Hotspur untuk dapat piala pertama setelah jangka waktu yang super lama.

Saya pribadi merasa rebuilding itu perlu komitmen, gak bisa selalu rebuilding tiap 2-3 tahun, so saya sedikit berharap dan merasa ini akan baik-baik saja, sudah mulai membaik, dan sudah mulai menutup kelemahan.

Tapi mau di sugar-coating gimanapun, statistik dan data sejak Amorim datang menunjukkan keadaan tidak baik-baik saja, malah makin menurun.

So ya, good luck to Ruben Amorim, and good luck for Manchester United too, gak tau deh gimana lagi ini, penasaran pelatih tipe gimana lagi yang bisa dibawa untuk memperbaiki performa klub.

Video dokumenter asyik dari WatchDoc Documentary, biasanya ngobrolin politik kali ini ngobrolin fotografi analog.

Jujur saja, ada vibe tertentu dari fotografi analog, tapi ya gitu sangat tidak newbie-friendly. Mulai dari harga film yang tidak bersahabat, proses cetak yang juga butuh effort, terus ya itu kalau yang masih belajar fotografi – yang masih sering salah – maka ya akan jadi hobi yang lumayan menguras dompet šŸ˜….

I am writing this as a desperate measure. After nearly 30 years as a loyal customer,Ā authoring technical books on Apple’s own programming languages (Objective-C and Swift), and spending tens upon tens upon tens of thousands of dollars on devices, apps, conferences, and services, I have been locked out of my personal and professional digital life with no explanation and no recourse.

https://hey.paris/posts/appleid

Satu hal yang paling horor dari teknologi saat ini adalah akun kena banned, Paris, si pemilik postingan, setelah 30 tahun menggunakan produk Apple, menulis buku tentang Apple, punya banyak produk Apple dan ketika kena banned ya sudah gak bisa melakukan apa-apa, semua device jadi gak bisa digunakan (bisa sih bikin akun baru), foto-foto 6TB gak bisa diakses, semua data dan dokumen yang sync ke iCloud gak bsia diakses, akun developer gak bisa dipakai.

Saya sih bukan Apple user selain MacBook kantor, saya lebih ke Google, tapi bukan berarti hal yang sama gak bisa terjadi, jika sewaktu-waktu ada aktivitas yang saya lakuin online menyalahi aturan Google bisa aja tiba-tiba kena Ban juga dan hilang semua akses, data, kontak, dan kepikiran itu foto-foto di Google Photos.