adukan.id : Laporkan konten negatif di dunia maya dengan lebih mudah

Beberapa waktu lalu saya merilis sebuah website bernama adukan.id, website yang akan membantu masyarakat untuk melaporkan segala macam bentuk konten negatif yang ada di dunia maya. Tadinya adukan.id saya buat karena ingin melaporkan penipuan via SMS yang begitu marak, beberapa memiliki website yang membuat beberapa orang mungkin mempercayainya. Pada pengembangannya, saya berpikir untuk tidak sampai disitu, tapi juga bisa menjadi tempat aduan “konten negatif” lainnya seperti Hoax, Pornografi dan berbagai macam postingan / foto / website / blog yang mungkin merugikan atau bahkan membahayakan orang lain.

Prosedur pelaporan konten negatif seperti ini sebenarnnya sudah ada, hanya saja agak ribet dan membingungkan. Dengan googling sebentar, akan ada banyak blog yang memberikan cara untuk melaporkan hal tersebut, sebagian besar memberikan saran membuat laporan di Diskominfo, Trust+ Internet Postif, Cyber Crime POLRI, OJK, Operator Layanan Selular bahkan pihak Bank, Ribet!. Dengan adanya adukan.id, prosedur untuk membuat laporan menjadi jauh lebih mudah, karena ya kalau mau buat laporan saja susah, ribet dan bingung bisa jadi makin sedikit orang yang ingin melaporkan sebuah masalah.

Adukan.id membantu prosedur pembuatan laporan menjadi lebih mudah, para pelapor cukup buka website adukan.id, isi form yang tersedia, kelar. Di belakang layar, by system adukan.id akan mengecek, memverifikasi dan memfilter laporan tersebut lalu mengirimkan laporan kepada pihak-pihak yang terkait secara sekaligus! misal untuk sebuah SMS penipuan, maka secara otomatis nomor yang digunakan penipu akan dikirimkan ke Operator Layanan Selular, URL / Website yang ada di SMS bisa di forward ke Internet Positif, dan kalau ada nomor rekening yang digunakan bisa dikirimkan ke pihak OJK dan Bank terkait, dan kalau memang level yang berbahaya, bisa di teruskan juga ke Cyber Crime Polri, semuanya dilakukan secara otomatis.

Tentu saja ada banyak celah prosedur di sini, paling kerasa adalah menentukan sebuah “konten negatif”. Kalau untuk scammer / penipuan, semua pasti sepakat bahwa hal tersebut masuk ke “konten negatif” yang perlu ditindaklanjuti. Permasalahnya adalah pada “konten negatif” seperti hoax, ujaran kebencian, pornografi, dan “hal negatif” lainnya, untuk beberapa orang mungkin sebuah konten masuk kategori negatif, tapi untuk orang lain bisa saja hal yang biasa atau masih bisa dimaklumi. Ini adalah PR buat saya pribadi untuk menentukan sistem verifikasi ini, beberapa masukkan yang paling bisa dieksekusi adalah dengan sistem verifikasi secara crowdsourcing, alias masyarakat juga bisa membantu memberikan verifikasi dan pendapat apakah sebuah konten bersifat negatif atau tidak.

Masalah lain adalah bagaimana memastikan sebuah laporan tersebut sudah diterima atau malah diproses oleh pihak terkait, karena gak sedikit yang menanyakan apa yang terjadi setelah laporan? apakah sudah gitu aja? apakah pasti sampai? apakah pasti diproses? sesungguhnya ini adalah diluar kemampuan adukan.id karena adukan.id hanya melaporkan saja, pihak-pihak terkaitlah yang punya kuasa untuk memproses. Walaupun begitu tetap saja ini menjadi konsen bagi saya maupun pengguna adukan.id

Masih ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk adukan.id, tapi untuk saat ini fokus utamanya adalah bagaimana membuat laporan secara lebih mudah, untuk 2 masalah tadi sepertinya akan dihandle di versi berikutnya.

So kalau kamu mendapatkan atau melihat sebuah konten negatif yang bisa merugikan atau membahayakan orang lain, jangan diam saja, adukan!

buka adukan.id

Tentang low budget project

Kalau kamu adalah freelancer atau punya teman seorang freelancer, kamu pasti sering liat joke, meme, atau bahkan beneran curhat terkait low budget project. Biasanya berisi obrolan antara si klien dan si freelancer yang mana si klien memberikan budget jasa pengerjaan suatu pekerjaan dengan sangat minim. Masalahnya adalah, apakah low budget project itu beneran kesalahan klien? Sebelumnya, Low budget project adalah sebuah projek atau pekerjaan yang budget nya sangat minim (low) atau tidak sebanding dengan waktu, effort ataupun “modal” yang diperlukan untuk mengerjakan projek tersebut.

Lanjutkan membaca “Tentang low budget project”

Mengevaluasi jam kerja menggunakan Rescue Time

Bulan lalu saya telah menyampaikan hasil evaluasi menggunakan salah satu aplikasi favorit saya, Toggl (bisa dilihat di sini).  Bisa dibilang hasilnya sesuai target tapi gak sesuai tujuan 🙂 ada banyak waktu yang terasa seperti hilang begitu saja tanpa record. So, bulan februari kemarin saya selain tetap menggunakan Toggl, saya juga menggunakan Rescue Time, sebuah aplikasi time tracker yang bekerja secara otomatis, gak perlu diklik, Rescue Time akan mentrack semua kegiatan yang dilakukan di depan laptop maupun pada smartphone.

Sebelum membahas Rescue Time, saya akan menyampaikan dulu hasil tracking menggunakan Toggl. Sebagai catatan, bulan sebelumnya (Januari) total work hours nya adalah 58 jam atau sekitar 2.5 jam kerja perharinya. Berikut adalah hasil record bulan Februari.

Total jam kerja 61 jam lebih, atau dibulatkan menjadi 62 jam. Kalau dibagi dengan 20 hari kerja, maka rata-rata perharinya menjadi 3 jam sekian!. Jadi dibalik misi saya untuk mengurangi jam kerja, bulan kemarin malah bertambah 30 menit-an perharinya,  walaupun ya masih sesuai dengan misi yaitu gak lebih dari 4 jam.

Pertanyaannya, itu beneran “cuma” 61 jam sebulan?

Inilah saatnya Rescue Time beraksi. Berikut adalah total jam saya standby didepan laptop dan smartphone.

Ba dum ts, ternyata saya menghabiskan waktu 145 jam di depan laptop, dan 112 jam memandangi layar smartphone!

Hanya berdasarkan data ini, beberapa hal yang bisa disimpulkan:

  1. Saya menggunakan Toggl hanya di laptop, dan asumsi bahwa saya gak pernah lupa me-mati-hidup-kan timernya, berarti ada 84 jam(145 jam – 61 jam) yang terpakai didepan laptop bukan untuk kerjaan.
  2. 84 jam gak jelas itu bahkan lebih banyak daripada jumlah jam yang dipakai kerja (61 jam).
  3. Asumsi lain bahwa saya tidak menggunakan laptop dan ponsel ketika lagi quality time bareng keluarga, berarti ada 196 jam (84 jam + 112 jam) sebulan dimana saya ya gak kerja, ya gak juga ngumpul dengan keluarga, dan gak juga lagi tidur. Itu berarti sekitar 7 jam perhari! (196 jam / 28 hari)
  4. Sekarang ditotalin semuanya, berarti ada 257 jam (145 jam + 112 jam) sebulan yang terpakai diluar quality time bareng keluarga, atau sekitar 9 jam lebih dikit perharinya (257 jam / 28 hari). Hasil ini kurang lebih sama dan cenderung lebih banyak dibandingkan dengan waktu yang dihabiskan teman-teman yang bekerja fulltime sebagai tenaga kerja kantoran (8 jam)!

Sebagai programmer yang sudah biasa liat data, saya percaya bahwa data gak bohong, dan berdasarkan data-data dan hasil kalkulasi diatas, bisa disimpulkan saya gak produktif seperti yang saya bayangkan 🙁

Tentu saja ini hasil yang mengecewakan karena salah satu alasan utama menjadi freelancer yang bisa bekerja secara remote dan jam kerja yang fleksibel adalah untuk bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga, atau mengerjakan apapun selain “kerja”. Namun ternyata hasil dari evaluasi ini berkata sebaliknya.

Belum cukup sampai disitu, saya mencoba melihat lebih detail kemana sih jam-jam itu terpakai, ini salah satu keuntungan sistem auto tracking dari Rescue Time.

Summary:

So yeah, hanya 25% yang dipakai kerja, selebihnya dipakai buat entertainment, news dan social media. fiuh.

Hmm, jadi ini adalah daftar 10 aplikasi dimana saya menghabiskan waktu paling banyak.

  1. 30% Entertainment ternyata dihabiskan untuk game (Top Eleven, SimCity, dll) dan juga iFlix.
  2. 11% News adalah reddit.com!
  3. 10% Social media tentu saja kombinasi instagram, facebook dan lainnya

3 dari 5 aplikasi yang paling banyak menghabiskan waktu adalah Top Eleven, iFlix dan juga SimCity, ini berarti fix: saya kebanyakan main hape!

Selain itu saya juga gak sadar ternyata aksi “cuma ngintip bentar doang” di Reddit dan Facebook memakan waktu yang lumayan juga.

Berikut rincian berdasarkan perangkat yang digunakan: (sayangnya saya gak ketemu gimana cara melihat keseluruhan list selain top 10)

Jadi begitulah hasil evaluasi saya, ternyata saya gak se-produktif yang saya kira. Untungnya dengan data ini, saya jadi tahu apa saja yang membuat saya gak produktif, menghabiskan banyak waktu, sehingga punya landasan untuk memperbaiki diri.

Data ini juga memberikan informasi bahwa goal saya tahun ini untuk mengurangi jam kerja sesungguhnya salah arah, bukan jam kerja yang menghalangi saya untuk melakukan hal lain diluar kerjaan, tapi efektifitas menggunakan waktu, terutama waktu kerja.

Kamu gimana? sudah mulai menghitung jam yang kamu habiskan tiap harinya?

Download Rescue Time

Review Buku: Stop Thinking Like a Freelancer

Ini adalah review dari buku berjudul “Stop Thinking Like A freelancer” yang ditulis oleh Liam Veitch. Si Om Veitch ini adalah seorang freelance web designer yang tadinya bekerja secara freelance, kemudian jadi karyawan fulltime, kemudian balik jadi freelancer lagi. Berdasarkan pengalaman tersebut, menurut Veitch, kebanyakan freelancer hanya memandang pekerjaannya sebagai “hobi” yang dibayar, bukan sebagai bisnis yang berjalan layaknya sebuah perusahaan. Oleh karena itu, freelancer mesti berevolusi, menaikkan level, agar tidak menghadapi masalah yang sudah sering dihadapi freelancer lainnya.

Di dalam Buku ini Veitch menjelaskan 5 fase evolusi seorang freelancer untuk menjadi “freelancer yang lebih baik”. Saya merangkum 5 fase tersebut sebagai berikut:

Lanjutkan membaca “Review Buku: Stop Thinking Like a Freelancer”

Mengirim notifikasi email ketika komentar balasan baru dibuat

Saya baru sadar bahwa ternyata WordPress tidak mengirimkan notifikasi ketika seseorang membalas komentar pada suatu artikel. Admin websitenya sih dapat email notifikasi bahwa ada komentar baru masuk, tapi si pemberi komentar sebelumnya bakal tidak tau kalau ada yang memberikan balasan atau respons pada komentarnya, walaupun yang memberikan balasan adalah si admin website.

Jadi saya buat plugin sederhana yang punya tugas sangat sederhana,  mengecek kalau ada komentar baru masuk yang berupa balasan pada sebuah komentar, maka akan dikirim email notifikasi ke pemilik komentar sebelumnya.

Lanjutkan membaca “Mengirim notifikasi email ketika komentar balasan baru dibuat”