Komedi

Iya, saya juga sudah menonton standup di Netflix itu, dan ya saya tau itu video bakal ramai yang bahas, dan ya termasuk postingan ini juga membahas video tersebut :).

Tema komedi tersebut memang tidak lazim untuk kebanyakan orang, ceplas-ceplos tersebut memang gak familiar untuk orang-orang yang belum bisa mengkategorikan komedi sebagai pure entertainment. Kalau penonton yang hadir disana langsung pastinya bakal biasa aja, lucu dan ya sudah, karena mereka bayar dan datang memang untuk dihibur, berbeda dengan orang yang nonton di Netflix, mereka klik video karena penasaran, jadi bisa jadi belum siap dengan tema komedinya.

Paling parah sih yang nontonnya potongan, karena saya percaya komedi apalagi standup itu masalah pergerakan cerita, dari awal sampai akhir sudah disiapkan untuk membangun dan mencapai momen punchline. Jadi begitu nontonnya terpotong jadi gak dapat efek development perjalanan cerita, langsung ke bagian klimaks dan sebagian orang jadi gak terbangun feel komedinya, langsung ambil kesimpulan.

Saya menikmati komedi tersebut, apakah komedi tersebut merubah sentiment saya ke si komika atau ke tokoh-tokoh yang disebut? gak, karena ya saya menggap hanya sebagai sebuah komedi, dan memang lucu untuk saya, kalaupun ada yang merasa gak lucu dan malah tersinggung, ya sudah gak perlu lanjutin nonton, ini orang lagi ngisi acara komedi, bukan lagi orasi.

Makanya jadi aneh melihat ada yang klarifikasi (ke publik pula bukan ke komika langsung), atau ada yang mengkoreksi ini itu, SJW koreksi candaan yang dinilai berlebihan, bro, santai bro, gak perlu serius, giliran standup dianggap serius, giliran yang unjuk rasa beneran malah dianggap becanda, kan aneh.