Koding dengan AI

Simon Willison punya tulisan detail dan menarik tentang bagaimana dia menggunakan AI untuk keperluan koding, selengkapnya bisa dibaca disini https://simonwillison.net/2025/Mar/11/using-llms-for-code/

Jujur saja, saya juga menggunakan AI sebagai coding assistant dalam waktu beberapa bulan ini, terlebih lagi beberapa minggu ini karena saya sedang mengerjakan projek menggunakan Go yang sebenarnya diluar skillset saya.

Ada banyak tools AI untuk koding, yang paling terkenal ya Claude, terus ada Cursor, lalu juga ada Copilot. Saya sendiri belum mencoba ketiganya, hanya menggunakan ChatGPT gratis saja.

Saya akui, hasilnya luar biasa dan sangat membantu dan mempercepat development.

Tapi berdasarkan yang sudah-sudah, kode yang dihasilkan oleh AI tools itu gak bisa 100% diambil gitu aja, karena ya seringnya salah, malah bikin error dan untuk kebanyakan orang terutama yang memang tidak menguasai koding yang ditanyakan maka akan makin susah untuk memperbaiki.

Kemarin misalnya, saya mengecek hasil kerja dari salah satu pelamar kerja, saya cek hasil koding mereka, dan saya menemukan ada keanehan disana, koding yang dia gunakan memiliki 2 fungsi utama, tapi yang satu itu hanya bisa berjalan di Windows, sedangkan yang kedua umumnya digunakan di Linux dan gak bisa di Windows, maka jadi pertanyaan kenapa bisa si pelamar kerja ini koding dengan 2 fungsi tersebut, yang mana kalau dijalankan di Windows atau Linux pasti akan malah error di keduanya.

Saya gak tau si pelamar ini menggunakan AI atau tidak, dan kalau menggunakan AI pun gak masalah, asalkan digunakan secara tepat, kalau cuma copy paste seperti itu, berarti (1) dia gak ngerti koding yang dia copy (2) dia bahkan gak testing dia punya kode makanya dia gak tau kalau ada error.

Pengalaman saya juga, beberapa kali koding yang diberikan oleh ChatGPT itu aneh, overkill, atau ya syntax nya deprecated, atau menggunakan library yang sudah mati atau malah library atau class yang gak pernah ada. Di saat seperti itu, kita sebagai pengguna mesti tau mana yang bisa digunakan mana yang tidak.

Seperti saya bilang diatas, beberapa minggu kebelakang ini saya menggunakan ChatGPT untuk membantu saya mengerjakan sebuah project berbasis Go, dan menurut saya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Mesti tau logika / alur program

Saya merasa akan lebih mudah kalau user mengerti logika atau alur program yang dibuat, sehingga pertanyaan yang dimasukkan di kotak prompt itu lebih terarah. Karena kalau pertanyaanya terlalu general atau terlalu garis besar maka kemungkinan jawabannya ngawur juga makin besar.

Mesti tau dasar bahasa pemrograman

Seperti cerita diatas, AI pun punya keterbatasan, masalahnya mereka itu begitu confidence dengan kode mereka, jadi sebagai user mesti tau basic supaya bisa mengira-ngira, kode yang dijalankan gak masuk akal, akan error atau gimana.

Bertanya untuk hal-hal yang sifatnya unit atau modular

    Gimana ya bahasa umumnya, tapi kalau bahasa kodingnya maksud saya bertanya pada bagian-bagian kecil dulu, secara unit, 1 fungsional kecil. Pecah alur besar jadi kecil. Ini berguna supaya jawaban yang diberikan itu fokus dan tidak terlalu kesegala arah, plus untuk kita sendiri supaya lebih mudah mengerti dan mereview kode nya, karena kan tentu akan lebih susah mereview codebase besar dan panjang, mending kecil-kecil jadi tidak ada yang terlewat.

    Jangan sungkan untuk minta penjelasan

    Satu hal yang saya suka dari ChatGPT kalau ada kode yang menurut saya aneh dan gak biasa, saya akan bertanya untuk minta penjelasan, lebih bagus kalau saya punya alternatif jadi bisa bertanya “kenapa gak seperti ini?”, karena ChatGPT akan memberikan penjelasan yang bagus, jadi bisa buat belajar dan juga menambah pengetahuan sendiri.


    Menulis kode dalam pembuatan program itu sebenarnya hal yang paling mudah, jadi sebenarnya koding menggunakan bantuan AI itu gak masalah, biasa aja dan gak gimana-gimana. Hal yang lebih besar dan krusial itu adalah mengerti dan menganalisa masalah lalu mencari solusi dan menuliskannya dalam bentuk kode.

    AI tools akan dengan senang hati memberikan output berupa kode yang bisa kamu copy paste, tapi begitu ada masalah terutama masalah dari sisi alur kerja (bukan syntax error, itu mah gampang sama AI) itu akan susah dibenerin kalau si pengguna tidak mengerti dengan apa yang diberikan oleh AI.