Di level perusahaan, perusahaan dapat menerapkan “right to disconnect”. Kebijakan ini secara langsung menjawab dua masalah sekaligus: melindungi pekerja dari burnout akibat merasa “harus tampak sibuk” (visibilitas performatif), sekaligus meredakan kekhawatiran perusahaan akan target yang tidak tercapai.
Dengan menerapkan “jam tenang” (misalnya, di luar jam 18.00-08.00), perusahaan justru akan mendapatkan tenaga kerja yang lebih fokus dan produktif.
Kebijakan right to disconnect juga perlu dibarengi dengan sosialisasi bagi seluruh lini perusahaan dan implementasi desain kerja berbasis output.
https://theconversation.com/jebakan-wfh-dan-kerja-fleksibel-yang-justru-menciptakan-burnout-270092
Berdasarkan artikel ini WFH itu bisa menciptakan ‘burnout’ karena masalah fleksibilitas waktu yang mana biasanya pekerja jadi bekerja tanpa batas waktu yang jelas, ini aneh menurut saya.
Sebagai orang yang sudah bekerja secara WFH sejak.. 2015 (10 tahun lalu!) Menurut saya WFH tidak berhubungan dengan burnout karena masalah keharusan untuk aktif dan terkoneksi 24 jam.
Seperti saya pernah bilang di artikel tersebut, WFH (dulu kerennya disebut kerja remote) itu tentang masalah lokasi, bukan waktu. Jadi begitu saya WFH dengan kantor saya yang sebelumnya di Bandung, lalu Jakarta, lalu di Malaysia, padahal saya tinggal di Samarinda, jam kerjanya tetap mengikuti jam kerja normal kantor, dalam arti ya pagi jam 8-9 absen, sore jam 5-6 sign off, tidak ada keharusan untuk menjawab atau available diluar jam tersebut, apalagi weekend, kecuali memang kasus tertentu.
Jadi gak ada hubungannya WFH sama jam kerja, karena WFH, from home, artinya masalah lokasi, bukan jam kerja.
Itu juga kenapa walaupun WFH bukan berarti bisa santai tidur siang, pergi-pergi, karena ya pada dasarnya itu jam kerja, jadi gak betul kalau digunakan keperluan bukan kerja, ya seperti kerja di kantor offline lah.
Saya mencoba dan selalu melakukan itu, dimana saya menghormati jam kerja kantor maka sebaliknya saya berhak menuntut kantor menghormati jam kerja saya, ketika tidak berlaku maka ya wajar untuk salah satu pihak untuk tidak terima dan komplain.
Untungnya tempat kerja remote saya semua melakukan hal yang sama, ya kecuali kasus atau ada acara tertentu.
WFH memang punya tekanan tersendiri untuk membuktikan bahwa ya saya beneran kerja. Suka atau tidak, bos, manajer, rekan kerja gak bisa liat bahwa saya beneran kerja atau tidak, jadi memang agak sedikit ekstra effort untuk menunjukkan produktifitas bahwa ya saya tetap bisa memberikan kontribusi positif walaupun secara fisik saya tidak ada, dengan cara ya menyelesaikan tugas dan selalu available untuk diskusi online, di jam kerja tentunya.