Here’s what I’ve noticed since then: the heyday of social media feels like it’s behind us. In my opinion, Facebook peaked in 2008. Back then, it was about connecting with friends, sharing actually interesting updates about our lives. Minimal ads. It felt genuine.
Now? Wannabe influencers everywhere. More ads and brand accounts in your timeline than content from people you actually know. Bots running campaigns to get engagement through false things or distortions of reality. It’s exhausting.
https://danielleheberling.xyz/blog/mindful-social-media
Iya bener banget, media sosial dulunya itu beneran update yang personal yang ya masih asik buat tetap berhubungan dan koneksi ke teman-teman yang dekat maupun yang jauh secara jarak, supaya tetap silaturahmi istilahnya.
Setelah itu berganti ke era “content creator”, dimana postingan berasa (dan memang) iklan, atau ya tidak genuine lagi, belum lagi algoritma sosial media sekarang mereka berlomba untuk memasukkan konten dari akun-akun lain yang bahkan kita gak tau tampil di feed kita karena algoritma merasa postingan tersebut relate dengan kita atau lingkungan kita, yang mana memang bener, tapi jadi echo chamber.
Tapi walaupun begitu, ada beberapa hal yang masih bisa saya ambil manfaat dari sosial media, walaupun sudah bukan sesuai tujuan “sosial”. Saya masih menggunakan facebook untuk mencari barang di group jual beli lokal, atau cari informasi kafe atau suatu tempat wisata di Instagram biasanya mereka lebih update.