Crypto Coin

Selalu menarik membahas tentang “investasi” Cryptocurrency, karena biasanya selalu membawa sifat buruk seseorang, seperti greedy, envy, pride, you named it.

Belakangan lagi ramai kasus dugaan penipuan yang dilakukan si paling crypto https://www.tempo.co/hukum/dugaan-penipuan-kripto-timothy-ronald-2107151 *tidak ada kutipan disini selain karena artikel premium, saya juga males menyebut nama-nama dan lembaga terkait, bahas ini pun sebenarnya males, tapi ada beberapa hal menarik yang sudah sering terjadi sehingga saya ingin beropini terkait hal ini.

Semua bermula dari pelapor yang tertarik mengikuti kelas premium karena melihat gaya hidup si owner di sosial media. Yea 2 hal disini: (1) kebiasaan beberapa orang yang suka dan mudah terbawa narasi yang ada di sosial media, dan (2) kebiasaan orang yang suka flexing harta di sosial media. Toxic banget memang sosial media itu, kalau gak bijak bisa kacau.

Orang-orang harus bahwa sosial media itu gak selalu real, apalagi untuk yang disebut sebagai “influencer”, “content creator”, kerjaan mereka ya memang membuat panggung, semua teks dan suara yang keluar itu gak bisa dianggap honest, selalu ada yang dijual, orang-orang harus paham banget ini supaya gak termakan segala narasi yang ada, karena ya itu mostly panggung performance, mereka sedang perform.

Si pelapor akhirnya ikut masuk kelas premiumnya, pendaftaran awal dikenakan biaya Rp. 9juta, lalu diikuti biaya keganggotaan Rp. 39juta, dan total sama printilan jadi Rp. 50juta hanya untuk menjadi member di kelas tersebut. Menurut pelapor si owner berjanji bisa memberikan keuntungan 500% dari total modal (tidak termasuk biaya pendaftaran tentunya). Caranya owner akan memberikan “sinyal” atau tanda untuk para anggotanya supaya membeli koin tertentu yang dirasa menguntungkan… dari sisi owner.

Ada banyak hal yang aneh dan salah disini, yang membuat saya berpikir gini amat ya orang pengen cepat kaya.

Pertama, gak ada investasi yang bisa kasi janji return, ini aturan basic banget dalam investasi, kecuali investasi obligasi atau deposito (atau bunga bank) dimana ya mereka sudah menyebut dari awal berapa return pertahunnya. Logikanya kalau ada yang berani kasi janji return dan return tersebut jauh melebihi bunga Bank atau Obligasi, kenapa gak sekalian aja Bank atau Danantara join kelas juga biar returnnya besar. Jadi pasti redflag. Tapi ya gak tau, janji return 500% ini apakah persepsi dari pelaku atau memang keluar dari mulut owner dan bisa dibuktikan di pengadilan? karena biasanya juga orang-orang salah persepsi, tidak bisa membedakan “potensi keuntungan” vs “janji keuntungan”, itu 2 hal yang sangat berbeda.

Kedua, saya tidak mengerti kenapa orang mau ikut kelas premium tertentu dan mau ikut segala sinyalnya, tanpa mengerti alasan dan tujuan kenapa owner memilih investasi ke koin atau saham atau investasi tertentu. Karena gini, gampang banget cari uang dari komunitas dan kelompok gitu, tinggal lempar sebut aja saham atau koin gak jelas, si owner beli duluan, ratusan orang lain tinggal ikut beli, ya otomatis harga saham atau koin tersebut naik meroket, thanks to anggota yang mau ikut aja nyemplung, nanti kalau sudah di titik tertentu harga sudah naik mahal, Owner tinggal jual dan take profit, baru ngabarin anggota dan anggota terakhir yang keluar adalah yang jadi tumbal.


Berdasarkan berita dari Tempo tersebut, owner akan memberikan instruksi untuk membeli sebuah koin tertentu, lalu anggota akan membelinya dan berharap mendapatkan profit seperti apa yang diomongkan oleh si owner.

Pada titik ini, menurut saya, gak bisa disebut penipuan, ngeselin memang tapi coba telaah baik-baik:

Owner memberikan instruksi, mengeluarkan ide dan opini kenapa menurut dia suatu item ini bisa jadi profit, tapi itu balik lagi ke audience/anggotanya, mau nerima ide tersebut atau tidak, dan mau menekan tombol beli atau tidak, dan berapa banyak modal yang mau dikeluarkan, semua keputusan itu ada pada kendali audiencenya, kalau dirasa gak bener ya gak usah diikutin, tapi masalahnya audiencenya kebanyakan tidak melakukan research juga, ikut aja pokoknya, terus kalau ternyata ide si owner salah dan rugi, menurut saya itu bukan salah si owner.

Ini seperti Bimbel waktu SMA, klaimnya: “90% siswa yang ikut bimbel ini masuk universitas besar”, kalau ternyata gak diterima di universitas besar, apakah bisa dituntut bimbel nya? walaupun seandainya bimbelnya sudah mengajarkan dengan benar dan lain sebagainya, tapi kan yang ikut ujian yang ngisi jawaban itu si anaknya sendiri, jadi kalau gak lulus maka gak bisa disalahin bimbelnya, sama seperti kelas VIP investasi gini.

Saya yakin owner nya juga gak bodoh-bodoh amat, mereka pasti gak pasang janji profit, mereka memilih koin crypto karena selain naik-turun cepat juga karena belum ada legalitas yang jelas, OJK tidak bermain disitu, mereka tau batasan yang mereka bisa lakukan supaya gak lewat garis pelanggaran.


Tulisan ini seperti saya sedang victim blaming, dan membela si owner, padahal tidak, saya pengennya lebih banyak orang yang sadar bahwa kelas premium itu jebakan berbayar. Serius deh, orang rela bayar mahal untuk dijadiin pendongkrak harga, kalau profit ya untung kalau rugi gak bisa disalahin, enak banget gak sih itu.

Saya sendiri malah tidak tertarik dengan ekosistem Cryptocurrency ini. Seperti yang saya bilang diawal, kalau ngobrolin Cryptocurrency itu biasanya yang keluar adalah sifat jelek seseorang. Orang-orang bisa kasi paper atau penjelasan tentang bagaimana “cryptocurrency” itu uang masa depan, teknologi canggih yada yada, tapi coba deh ikutin, denger, dan baca apa yang dibahas pasti hanya seputar profit dan loss, tidak ada yang membahas dari sisi teknologi dan perkembangannya, apalagi dari sisi lingkungan, dari sisi sumber daya yang digunakan untuk pengoperasian jual beli cryptocurrency, gak akan ada, untung rugi udah itu aja.

Kalau dibandingin sama taruhan bola, paling tidak orang yang taruhan bola itu lebih mikir karena mereka punya alasan sendiri untuk memilih suatu tim gak sekedar ikut-ikutan, dan ya paling gak dapat hiburan dari pertandingnya sendiri.