Istilah yang makin kesini makin populer dan makin bener nyata. Pada dasarnya Dead Internet Theory itu situasi dimana apa yang kamu lihat di dunia maya, sosial media, internet itu adalah aktifitas bot, ai, sistem otomatis, minim keterlibatan peran manusia beneran.
Rasanya kutipan artikel ini sangat relevan banget:
First we had friends. Then we had influencers. And if Mark Zuckerberg is correct, the next big thing in our social media feeds will be AI generated content. Lots of it.
https://finance.yahoo.com/news/mark-zuckerberg-says-lot-more-233924648.html
Ketika website, blog, sosial media, forum yang tadinya diisi orang beneran, bisa diskusi dan komunikasi dan berteman beneran, lalu berganti era influencer dimana semua-semua dibuat berlebihan, sempurna, bahkan kadang rage bait tujuannya buka buat ngobrol tapi memang bikin “FYP” kalau istilah sosial media sekarang.
Lalu gak sedikit juga kita liat banyak postingan yang menggunakan AI, Gambar dan ilustrasi biasanya yang paling kerasa banget kalau buatan AI, lalu teks juga, sebagai pengguna LLM harian rasanya jadi illfeel kalau baca teks terlihat menarik tapi diliat sekilas keliatan banget hasil generate dari ChatGPT/Gemini dll.
Ini tidak mengherankan karena ada banyak orang yang bangga akan hal itu, bikin tool untuk menulis otomatis di blog, atau auto posting sosial media, kadang disertai gambar hasil generate juga. Kadang saya pengen nanya ke orang-orang tersebut, lah terus buat apa hadir di sosial media atau interenet tapi semuanya hasil otomasi? kenapa juga saya mesti baca atau bahkan komentar di postingan seperti itu, toh gak akan dibaca.
Beberapa contoh layanan atau ‘pengakuan’ ke-tidak-authentik-an:



“Mesin distribusi konten”, tepat sekali, beberapa akun hanyalah mesin distribusi konten penarik perhatian engagement, pemilik gak begitu peduli juga dengan kontennya, dan orang lain yang membaca kadang gak tau bedanya dan menganggap serius, kadang sampai debat online, padahal cuma ngobrol sama “mesin”.
Untuk yang lebih advance biasanya account full AI, yang mana individu tersebut beneran tidak ada tapi segala interaksi hasil generate dan berinteraksi layaknya orang normal.
Semua ini membuat interaksi di dunia maya itu semakin berasa palsu, dimana sebelumnya sudah kerasa tidak authentik karena kelakuan influencer dan influencer-wannabe yang juga menggerakkan bot-bot untuk auto komentar, auto follow. Buzzer yang terlihat seperti orang padahal di-kontrol semua dan terotomatisasi, postingan ragebait yang memancing orang marah –di dunia maya–, yang padahal amarah memang sengaja dibuat supaya ‘viral’ dan dapat profit.
Saya jadi ingat Path, aplikasi “sosial media” untuk privat, tidak ada algoritma, tidak ada viralitas, beneran diisi oleh orang-orang yang kamu kenal dekat saja. Sesuatu yang lebih private, lebih genuine.