Iya bener banget, tren entertainment digital via smartphone yang cenderung cepat, beragam, kadang nir-faedah, dan tanpa batas beneran kerasa membuat perasaan candu, selalu pengen lagi dan lagi.

Apalagi secara algoritma memang menampilkan yang terbaik dan sesuai dengan hal yang disukai pengguna, jadi makin candu.

Video ini membahas ini, tapi sebenarnya yang dilupakan kebanyakan orang candu toksik berarah brainrot bukan sekedar ketika konten negatif tanpa faedah. Konten positif, fakta dan mungkin niat nya baik, tapi kalau menyebabkan candu ya sama saja. Karena pada dasarnya kamu tetap diam, sendiri, scroll tak hingga, dan fokus beralih secara cepat.

Malahan saya merasa terlalu banyak membaca berita malah bikin terlalu suram melihat dunia, karena media juga beritanya doomposting.

Jadi menurut saya untuk menghindari Brainrot, adalah dengan bukan hanya memfilter konten ‘negatif’ dan ‘positif’, tapi berhenti sekalian dari layanan entertainment tak terbatas, ngobrol langsung sama orang, rasakan keadaan sekitar.

Ceritanya kemarin anak saya yang masih SD diajak temen sekelasnya untuk join ke group Whatsapp yang berisi anak-anak teman sekelas.

Sebagai catatan, anak saya masih belum punya akses ke ponsel secara pribadi, ada jatah waktu untuk ‘gadget time’, tapi itu pun cuma 1 jam sehari, dan belakangan ini secara inisiatif mereka sendiri, mereka sepakat bahwa mereka akan mengurangi jatah waktunya, menjadi tetap 1 jam sehari tapi hari esoknya tidak sama sekali, so 1 jam untuk 2 hari. Saya sangat apresiasi inisiatif mereka ini.

Balik ke group Whatsapp anak-anak tadi, saya masih merasa belum perlu, saya gak tau apa yang anak-anak obrolin tapi saya masih merasa belum perlu dan tidak melihat urgensi nya, jadi ya saya belum kasih izin dan si anak oke-oke saja.

Iseng saya coba cari info untuk usia minimal pengguna Whatsapp, dan dari halaman FAQ resmi Whatsapp menyatakan:

When you join WhatsApp, you must meet the minimum age of use requirements. We encourage you to review these guidelines on how to use WhatsApp responsibly.

You must be at least 13 years old (or such greater age required in your country) to register for and use WhatsApp.

https://faq.whatsapp.com/240694875565320

Jadi alasan saya belum memberi izin bukan tanpa alasan, platform punya batasan usia seperti itu.

Saya gak boong, saya sempat lupa ada BukaLapak, video ini rilis baru deh ingat sama marketplace unicorn ini..

Fakta yang gak bisa diboongin, kita mah sebagai user mencari yang paling banyak kasi promo, karena barang jualannya pun sebenarnya kurang lebih antar marketplace karena yang jual ya itu-lagi-itu-lagi, jadi dengan barang yang sama, toko yang sama, ya tentu saja pembedanya adalah di promo dan ya promo perlu ‘subsidi’ dari si marketplace.

Dipikir-pikir, startup seperti ini sudah seperti lembaga bantuan masyarakat deh.

Levon Cade, an ex-black ops agent, leads a peaceful life with his daughter as a construction worker. However, Levon is forced to use his old set of skills to find his boss’s teenage daughter and soon uncovers a criminal conspiracy that has the potential to wreak havoc on Levon’s peaceful life.

Jason Statham bisa beradegan dengan variasi kerjaan apa saja yang ada di dunia, tapi ujung-ujungnya tetep bakal pegang pistol dan berantem 😀

Tapi saya pribadi malah suka dan paling inget Jason Statham di Spy

Indeks LQ45, yang lebih mencerminkan arah pasar Indonesia karena merupakan rangkuman pergerakan dari 45 saham bluechippaling likuid di bursa, turun signifikan di sepanjang tahun 2014 2024, tepatnya -14.8%. Dan kalau ditarik hingga lima tahun ke belakang, maka antara 2020 – 2024, Indeks LQ45 turun total -18%, aka jauh lebih buruk dibanding IHSG yang masih naik +12% pada periode yang sama.

https://www.teguhhidayat.com/2025/01/kenapa-ihsg-susah-naik-lalu-apa-saran.html

Ya ya, saya tahu investasi saham sedang susah, kecuali 2021, era habis covid dimana semua membaik, selepas itu berasa susah, sempat mempertanyakan apakah keputusan saya untuk investasi saham ini salah? 🙂

Tapi ketika dijabarkan seperti kata Pak Teguh ini, kelihatan banget suramnya 😀

Seperti yang dikutip, LQ45 yang merupakan pilihan saham andalan selama 2024 doang malah turun 14%, jadi yang invest di saham-saham LQ45 yang ada uangnya malah berkurang.

IHSG, yang merupakan saham keseluruhan, selama 5 tahun kebelakang, total kenaikan 12% alias sekitar 2% per tahun. Jadi sebenarnya daripada invest saham mending diemin uang di bank, dapatnya lebih banyak.

Walaupun sayangnya Pak Teguh tidak mengikutkan nilai dividen, dan ya memang gak relevan dengan perkembangan saham, tapi dividen tetap menurut saya termasuk dalam ROI, dan ya walaupun saham saya kelihatan gak gerak, tapi dividen tetap masuk dan ‘lumayan’.

Gibran Khalfani (8), nyaris tidak menyentuh menunya sama sekali. Gibran hanya menyantap tahu isi olahan daging ikan. Selebihnya, dia enggan mencoba nasi, tempe, sayur, dan pisang yang ada di depan matanya. ”Saya tidak suka tempe dan saya juga sudah makan sebelum sekolah,” ujar Gibran saat ditanya dan dibujuk makan oleh sejumlah guru.

https://www.kompas.id/artikel/pelajaran-dari-gibran-yang-tak-doyan-tempe-menu-makan-bergizi-gratis-mesti-lebih-kreatif?open_from=Tagar_Page

Ha, menarik melihat perkembangan program MBG ini.

Menarik karena jujurnya saya merasa program ini baik, niatnya baik dan efeknya pun baik, dan berharap program ini punya konsistensi, bukan cuma diawal, dan terlaksana dengan benar, tidak di-abuse oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Tapi dilain sisi juga menarik karena saya tau sendiri dan kenal beberapa anak dari saudara-saudara saya yang sama sekali gak makan nasi, sama sekali gak suka sayur, bahkan gak suka buah, so saya gak kaget juga melihat seperti di berita ini beberapa anak makan gak habis bahkan gak disentuh.

So ini akan jadi tantangan untuk program ini, jadi selain faktor niat pemerintah, kredibilitas petugas, dan yang terakhir dan paling penting anak yang menjadi target program, semua harus sync, so menarik melihat bagaimana program ini akan berjalan, bagaimana ini kedepannya.

Semangat juga buat bapak dan ibu guru kelas 😉

Perhatian ini bentuknya beragam, mulai dari simpati, empati, sindiran, hingga hujatan pun termasuk dalam ‘attention’. Terlebih bagi kreator yang fokus memproduksi konten viral. Mereka cenderung tidak peduli pada ‘citra positif’ melainkan berfokus pada capaian views, comments, shares, sehingga hujatan maupun makian dari audienspun dianggap faktor penambah dalam logika media sosial. Layar media sosial kita menjadi penuh dengan orang-orang yang sibuk mencari perhatian, umumnya dengan cara yang tidak lepas dari hasrat dasar manusia yang suka gossip, rumor, dan hal-hal nyeleneh lainnya.

https://theconversation.com/tren-ngonten-ala-sadbor-berpotensi-gerus-pekerjaan-di-perdesaan-242903

Sisi gelap “konten kreator”. Dari sisi platform, kreator, dan audience memang sukanya yang ribut, viral, rame, entah negatif ataupun positif.

Masalahnya, lebih mudah untuk buat konten negatif daripada positif dan bermanfaat.

Jadi ya sudahlah, arahnya memang gelap.

Mengenai potret, setiap orang dilarang melakukan penggunaan secara komersial, penggandaan, pengumuman, pendistribusian, dan/atau komunikasi atas potret yang dibuatnya guna kepentingan reklame atau periklanan secara komersial tanpa persetujuan tertulis dari orang yang dipotret atau ahli warisnya.

Setiap orang yang tanpa persetujuan dari orang yang dipotret atau ahli warisnya melakukan penggunaan secara komersial atas potret untuk kepentingan reklame atau periklanan untuk penggunaan secara komersial baik dalam media elektonik maupun nonelektronik, dipidana denda paling banyak Rp500 juta.

Hukumnya Memfoto Ciptaan Orang Lain untuk Kepentingan Komersial

Masih terkait postingan consent kemarin, berdasarkan googling cepat, ketemu aturan ini.

Secara aturan intinya gak boleh menggunakan foto tanpa izin untuk keperluan komersil, tapi saya kurang mengerti itu maksudnya spesifik komersil dalam bentuk reklame atau periklanan atau segala jenis kebutuhan komersil.

Mungkin mirip sama fotografer yang biasa ada di Wisuda, jepret semua orang, print, terus dijajakan dijual, siapa saja bisa beli. Apakah itu masuk kategori ini? saya gak tau.

Tapi kalau saya jadi si fotografer, saya akan berhati-hati.