Baru nemu kanal YouTube-nya, dulu taunya Pak Darwis Triadi ni ya maestro fotografer gitu lah, dan ketemu video ini menarik karena:
Rasanya beliau ini lebih banyak foto tipe portrait, jadi menarik melihat gimana kalau foto jalanan gini.
Beliau pakai smartphone dong, kamera cuma dikalungin.
Menit 2:00 menarik melihat persepsi Pak Darwis terkait ngambil foto orang lain “tanpa izin”, pada dasarnya saya sepakat dan punya sepemahaman dengan beliau dimana ya kalau bisa jangan terlalu personal, maksudnya terlalu close up dan fokus ke orang tersebut.
Walaupun begitu, kerasa sih beda sama fotografer di YouTube lain, keliatan memang beda generasi 😀
Ini sepertinya film zombie pertama di Indonesia gak sih? trailernya sih oke, walaupun agak gak biasa ngeliat zombie di landscape Indonesia 😀
Rasanya memang film orisinal Netflix itu feel nye beda sama film-film standard bioskop, kerasa unik dan berbeda lah temanya. Secara sinematik dan gambar juga berbeda tapi saya gak bisa cerita banyak bedanya dimana, kerasa vibe nya saja.
Di hari yang sama, Netflix Indonesia juga merilis trailer film lain, https://www.youtube.com/watch?v=iq1CDNWLqC4 Judulnya A Normal Woman, yang mana dari trailernya masih belum jelas ini temanya apa, tapi memang itu fungsinya trailer, bikin penasaran dan memang kelihatanya menarik.
Iya sih bener, pada dasarnya bukan tipe generasinya, tapi generasi yang lebih senior memang selalu menganggap generasi junior nya (selalu) tidak lebih baik.
Hanya saja media sekarang memberikan label abjad tertentu jadi semakin memberikan warna berbeda antar generasi yang semakin nyata terlihat.
Baru kemarin saya posting tentang salah satu artikel dari Katadata, dan saya merasa foto-fotonya menarik dan bagus, sayangnya karena website berita maka foto yang ditampilkan cukup kecil dan sederhana diantara banyak teks, sidebar, iklan dan lain-lain.
Oleh karena itu saya iseng tadi malam bikin website yang akan menyimpan dan menampilkan ulang foto-foto karya fotografer Katadata, tentu saja dengan semua informasi dan link ke artikel Katadata terkait.
Semoga mereka gak marah ya 🙂 karena ini murni bentuk apresiasi dan kesukaan saya terhadap foto mereka.
“Yang dulunya 230 ton sampah per hari kita buang ke TPA Sarimukti, sekarang yang kita buang kurang lebih hanya 130 ton sampah per hari. Artinya ada sekitar 100 ton sampah berhasil kita tangani dan olah di sini,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi Chanifah Listyarini.
Unik juga, kota tanpa pembuangan sampah terakhir, karena sampahnya diolah sesuai jenisnya dan dimanfaatkan ulang. Penasaran gimana kelanjutannya nanti setelah berhasil semua, tapi biasanya yang begini cuma di expose diawal, semoga berikut-berikutnya masih terus diliput untuk jadi Inspirasi kota lain.
Tapi selain itu, saya juga tertarik dengan foto-foto di artikel tersebut, komposisinya bagus, warna dan eksposurnya juga tipe yang saya suka banget. Saya juga pengen bikin vibe warna seperti itu, contohnya disini. Tapi ya memang saya pemula hehe.
Indonesia menjual (kredit) karbon ke dunia internasional, tau gak sih apa itu kredit karbon?
Saya penasaran ini sejak beberapa tahun lalu, bagaimana caranya karbon bisa dijual, dan ternyata lucu dan aneh.
Contoh paling gampangnya gini:
Ada 2 anak yang sedang ujian, nilai batas kelulusan adalah 70. Anak ke 1 mendapat nilai 50, dan anak ke 2 mendapat nilai 100. Harusnya anak ke 1 gak lulus karena nilainya dibawah batas kelulusan, tapi anak ke 1 bisa beli kredit nilai sebesar 30 dari anak ke 2, sehingga anak ke 1 nilainya jadi 80 (50 asli + 30 dari anak ke 2), dan anak ke 2 nilainya jadi 70 (100 nilai asli – 30 nilai yang dijual), sehingga keduanya lulus ujian.
Nah karbon itu gitu tuh, jadi perusahaan yang emisi karbonnya melebihi batas karbon yang diperbolehkan membeli ‘nilai’ atau kredit karbon dari perusahaan lain yang belum melewati batas emisi karbon, atau mampu menghemat dan mengurangi emisi karbon.
Jadi pada hakitkatnya, perusahaan yang membeli kredit tadi gak serta merta menurunkan produksi emisi karbon, tapi membayar ke perusahaan lain yang lebih hemat karbon.
Jadi lucu karena pada akhirnya lingkungan tetap mendapatkan emisi karbon yang sama. Saya pikir perusahaan menurunkan emisi karbon nya, ternyata ya gitu hanya membayar ke perusahaan lain.
Hari minggu, dari pagi subuh hujan sampai sekarang pukul 3 sore, gak bisa keluar rumah, cuma diam di dalam rumah. Santai aja dulu sambil ngerjain side project yang gak beres-beres.
You have awkward stage hair and you’re convinced it looks awful. You feel weird, sloppy, unprofessional, and you don’t know what the hell to do with it. You get comments from people, even your mom, telling you your hair looks bad and well-meaning advice that “you should just cut it honey.”
They mean well, but they don’t understand. They’re thinking short-term, not big picture.
Rambut yang nanggung, keliatannya agak panjang dan gak rapi, padahal fase ini gak bisa dihindarkan, fase santara pendek menuju rambut panjang, dan untuk mendapatkan rambut panjang ya mau gak mau harus lewat fase tengah-tengah ini, fase awkward.
Movie Night kali ini nyelesein series Into the Night.
Tadinya dapat series ini secara gak sengaja, nonton 1-2 episode awal dan saya suka nih series begini-begini, tentang dunia yang mau hancur karena bencana alam, sci-fi, doomsday gitu-gitu.
Premisnya, matahari sedang dalam situasi langka dimana sinar matahari bisa membunuh mahluk hidup, dan merusak nutrisi makanan. Jadi cara tokoh-tokoh utama bisa bertahan hidup adalah dengan mengendarai pesawat dan terus pergi ke barat untuk tetap bertahan di zona malam, agak absurd memang, tapi ya lumayan lah.
Season 1 nya menarik, mereka masih berkelahi dengan tema utama series ini, Season 2 mulai sedikit boring karena mereka fokus berkelahi dengan komunitas lain yang sejujurnya ini premis klasik banget, jadi inget The 100.
Terus setelah season 2, ternyata gak ada season 3 dong! aduh asli kecewa, sudah investasi waktu sebanyak itu, masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, eh selese gitu aja, season 3 nya gak ada.
Langsung aja pergi ke Reddit cari pembahasannya, dan ternyata mereka bikin sejenis Spinoff series lain yang menceritakan kedaan yang sama dari POV berbeda dan judul berbeda, yaitu Yakamoz s-245.
Sedikit mengobati rasa penasaran, tapi ya tetep, tidak menjawab seluruh pertanyaan dari series aslinya, malah bikin beberapa pertanyaan baru. Untung aja saya ketemu judul series spin off ini.
Rating: 3.5 dari 5
Saya pengen banget kasi 4, tapi karena gantung dan gak ada info terkait season selanjutnya, jadi males banget rekomendasi series ini, takut kecewa ntar.
Menarik sih koin ini, mengingatkan pada Pokemon GO tapi yang beneran ada keuntungan finansial ditambah dengan viralitas dan fomo nya dan kenyataan bahwa koinnya secara fisik ada, maka jelas jadi heboh banget.
Tapi belum keliatan ni endgame nya gimana, karena tentunya ada sesuatu dibalik “kebaikan” ini, gak mungkin bagi-bagi uang gitu aja.
Paling pasti jelas viralitas, tapi setelah viral maka berujung kemana? masih belum ketebak.