Danantara

Tentu saja beberapa hari belakangan ramai seputar Danantara, dan sebagai investor saham Indonesia –walaupun kecil-kecilan– Saya merasa tertarik untuk lebih tahu apa sih Danantara dan apa akibatnya terhadap ekonomi negeri, terutama sektor BUMN yang tercatat sebagai perusahaan terbuka di IDX.

Tapi yang paling ramai sebenarnya malah adanya ajakan usaha Bank run, yaitu menarik uang dari bank-bank BUMN karena takut dipakai dan disalahgunakan oleh lembaga pemerintah ini, yang mana aslinya ya gak akan.

Untuk yang merasa takut uangnya “diambil” oleh Danantara, maka sebenarnya gak akan. Uang nasabah itu masuk dalam kategori aset atau lebih tepatnya bagian liabilitas alias hutang bank kepada nasabah, jadi gak akan hilang, apalagi kalau tabungan masih dibawah 2M karena ya ada LPS, jadi gak ujug-ujug duit nasabah dipakai Danantara.

Danantara beroperasi menggunakan profit BUMN, untuk Bank BUMN maka ya yang dipakai profit bank yang berasal salah satunya dari bunga pinjaman kredit, dan ini bukan sekedar pinjaman KPR atau cicilan kendaraan mu saja, tapi juga hutang perusahaan-perusahaan besar, karena kalau melihat daftar perusahaan terbuka di IDX, sepertinya gak ada yang gak berhutang ke bank BUMN, jadi ya itu salah satu pemasukan bank BUMN ya, yang mana akan dibagikan kepada pemilik saham dalam bentuk dividen, nah dividen ini yang digunakan oleh Danantara.

Dividen BUMN

Karena Danantara menggunakan dividen, seandainya mereka serius dan butuh dana lebih banyak, maka mungkin (mungkin-mungkin) mereka menggenjot dividen payout ratio atau jumlah pembagian dividen supaya lebih besar, jadi menarik karena pemegang saham BUMN termasuk saya dan banyak investor retail lain juga akan ikut kecipratan dividen yang jumbo.

Dividen jumbo ini bisa terjadi karena 2 hal:

Pertama, Danantara melalui divisi atau holding operasional akan “membantu”, “mengoptimalkan”, kinerja BUMN supaya lebih profit karena kalau profit nya lebih besar maka bisa bagi dividen lebih besar yang bisa digunakan oleh Danantara. Kalau ini beneran berhasil, ya tadi investor retail juga kecipratan optimalisasi Danantara dan ikut dapat dividen jumbo 😉

Kedua, Danantara nyerah, gak berhasil mengoptimalisasi tapi memaksa BUMN untuk membagi dividen jumbo, kalau ini terjadi ya tetep investor retail ikut dapat saham jumbo, tapi ya siap-siap BUMN nya gonjang ganjing karena profit nya habis buat bagi dividen instead of operasional kedepannya.

So kita gak tau kemana arah Danantara nantinya.

Jadi itu baru seputar modal operasional Danantara, yang berasal dari dividen BUMN, dan pastinya bukan dari uang nasabah di Bank BUMN, jadi gak perlu kuatir untuk hal ini.

Fungsi Danantara

Terus kalau sudah punya modal operasional dari dividen tadi, terus mau buat apa sih?

Selain divisi/holding operasional yang membantu mengoptimalkan kinerja BUMN tadi, ada 1 divisi/holding lagi, yaitu holding investasi, tujuannya ya untuk menginvestasikan dana yang terkumpul tadi, harapannya bisa mengembangkan dan ya seperti kita kalau mau investasi, harapannya bisa memberikan return tambahan alias cuan, kalau Danantara ya untuk negara bisa lebih cuan.

Bagaimana proses dan bentuk investasi nya? nah kalau ini saya berlepas, saya gak tau dan gak terlalu tertarik, sudah diluar bidang saya.

Saya lebih tertarik dengan KPI nya, ROI nya, atau apakah Danantara akan sukses dengan usaha investasinya?

Resiko

Ya seperti investor retail, ketika melakukan investasi maka sudah pasti menghitung dan berharap akan ROI atau return of investment yang baik, atau gampang, ya tentu pengen CUAN. Bagaimana dengan Danantara? karena ya balik lagi, sama seperti investor retail atau pengusaha lapak, investasi gak selalu cuan, sering juga merugi.

Menariknya, pada pendirian Danantara, dibuat undang-undang intinya untuk membebaskan tanggung jawab Danantara dan BUMN apabila mengalami kerugian. Jadi kalau BUMN atau investasi Danantara merugi, maka gak bisa dianggap sebagai kesalahan mereka.

Ini seperti lepas tanggung jawab, tapi memang susah kan, dalam dunia investasi gak ada jaminan 100% cuan terus, ya ada juga kerugian, terutama dalam jangka waktu pendek, jadi ya bisa dimengerti kenapa mereka gak mau disalahkan.

Kecuali memang ada bukti tindakan pidana korupsi, baru bisa diusut.

Bagaimana jika gagal?

Ya gak gimana-gimana, seperti investasi pada umumnya, bisa aja merugi, jadi masalah karena dana yang digunakan adalah dividen BUMN yang harusnya jadi pendapatan negara, jadi kalau gagal, maka ya negara kehilangan salah satu pendapatannya, dan kalau negara kehilangan dan kekurangan pendapatan maka operasional dan perkembangan negara juga terganggu, salah satu efeknya ya bisa aja negara mengurangi subsidi bantuan, efisiensi anggaran, dan lainnya.

Bagaiman jika berhasil?

Jujurnya gak banyak bahasan tentang bagaimana jika berhasil, karena ya biasa, kurang click bait lol, dan kalau berhasil ya sudah negara jadi punya pendapatan tambahan, kalau jawaban versi politikusnya maka kalau berhasil BUMN jadi lebih produktif, perekonomian masyarakat meningkat. yada yada.

Menurut saya yang gak pakar dan gak ngerti ini, ide Danantara itu baik saja, cuma ya itu pengalaman dari yang sudah-sudah, kalau sudah ngomongin pengelolaan dana, itu agak sensitif, lebih ke pesimis, apalagi ingat Jiwasraya, Asabri, dan lainnya. Apalagi pemberitaan tentang pemerintahan yang cenderung negatif, doomposting istilahnya, jadi susah untuk percaya sama Danantara.

Tapi yang pasti, gak usah ikut-ikutan narik uang dan pindah bank gara-gara postingan sosial media, gak ngefek itu.