Sore

Saya sudah tertarik dengan film ini karena 2 hal, sutradara Yandy Laurens yang mana saya suka sama film sebelumnya Jatuh Cinta Seperti di Film-Film suka banget, dan juga dari judulnya yang kerasa “time travel” nya yang mana juga tema favorit saya, walaupun saya ragu, ini pasti cuma judul “clickbait”.

boy, i was wrong.

Setelah nonton bareng istri, saya takjub, dua kali nonton film dari sutradara Yandy Laurens dan dua-duanya saya suka, eh rasanya malah dua-duanya film favorit indonesia saya saat saat ini.

Bukan time travel sih, tema film ini lebih tepatnya disebut time loop, dan tema ini memang selalu asik, saya jadi inget film Boss Level (2020), Source Code (2011), Edge Of Tomorrow (2014), terus ada juga TV series Russian Doll (2019).

Selain itu tema utamanya tentu adalah romansa, tapi romansa dengan ukuran yang pas, gak terlalu cheezy. Ada banyak film romansa yang saya jadi males karena terlalu berlebihan, tapi Sore ini pas, kita tahu ada kisah romantis disana, tapi gak terlalu berlebihan, gak merasa dijejalkan. Belakangan saya juga suka tema romansa seperti ini, asal pas ukurannya.

Ya, ada banyak hal di film ini menunjukkan suatu hal tanpa harus mengatakan atau menunjukkan secara eksplisit, ini adalah sesuatu yang istimewa, misal penonton bisa ikut merasakan capeknya dan bagaimana perasaaan Sore di setiap time loop tanpa harus Sore mengatakannya, atau tentang sistem kerja time loop-nya, kalau gak salah bahkan gak ada mention terkait time loop, yaudah jalan aja dan penonton mengikuti dan paham sistem kerja dan batasannya.

Lebih dari 2 hal tersebut, alur ceritanya juga seru dan asik, biasanya kalau nonton film terutama film indonesia saya suka timbul pertanyaan “loh kok gitu?” atau “mana bagian xx nya?”, tapi di film ini semua dalam porsi pas. Saya sempat mempertanyakan kok Sore mulu, Jo nya gimana, eh ternyata makin kebelakang fokus beralih ke Jo yang jadi kita lebih banyak belajar tentang Jo, lalu belajar tentang bagaimana semua bermula diawal. Atau “kenapa gak move on aja?” ternyata film ini juga menjawabnya.

Saya juga suka bagaimana dalam waktu 2 jam, penonton bisa dibuat sangat into the character, kita seperti bisa mengerti dan merasakan perasaan kedua karakter utama, capek, luka, harapan dan tentu saja kasih sayang yang spesial.

If I had to live ten thousand lives, I would always choose you.

Mungkin 1 hal yang saya gak cocok adalah bagian akhir dimana mereka bersalaman dan memori dalam timeloop tiba-tiba bangkit dan masuk ke dalam pikiran mereka, sepertinya ini pertama kali saya lihat penyelesaian seperti ini, itu aneh sih dan jadi akward gak sih kehidupan setelahnya 🙂

Oh, lalu untuk dialog, scoring, dan pengambilan gambar, top banget, dialognya mewah, gak lebay dan kaku, scoring pas banget, apalagi suara latar di-ending, terus pengambilan gambarnya art banget, setiap scene bisa jadi poster sendiri, serius deh, untuk bagian ini saja sudah bisa jadi alasan untuk menjadikan film ini film bagus, ditambah dengan semua yang sudah saya mention diatas? Juara!

Recommended banget: 5/5