“A recent report by content delivery platform company Fastly found that at least 95% of the nearly 800 developers it surveyed said they spend extra time fixing AI-generated code, with the load of such verification falling most heavily on the shoulders of senior developers.”
…
Malekzadeh estimates he spends around 50% of his time writing requirements, 10% to 20% of his time on vibe coding, and 30% to 40% of his time on vibe fixing — remedying the bugs and “unnecessary script” created by AI-written code.
Ya menurut saya juga demikian, koding dengan AI itu bukannya mudah, untuk yang bukan programmer mungkin akan kebingungan, untuk junior programmer mungkin terlihat mudah tapi sebenarnya bahaya karena tidak menyadari adanya kesalahan logika koding yang tidak terlalu nampak kecuali beneran diperhatikan, dan jadi bom waktu di kemudian hari ketika harus debugging.
Sebagian besar yang bilang AI agent membantu untuk koding adalah programmer yang sudah lama berkecimpung di dunia programming sehingga benar tools tersebut sifatnya membantu, walaupun sebagian besar waktu dipakai untuk membuat prompt/requirements yang jelas dan juga melakukan review dan perbaikan manual jika dibutuhkan.