Kemarin suntuk banget, jadi buka-buka sosmed dan entah gimana algoritma saya, tau-tau saya dapet postingan dengan narasi kurang lebih “Pertamina jual pertamax lebih mahal tapi tetap rugi, sedangkan Malaysia (Petronas) jual lebih murah malah untung besar”, dan ini menarik buat saya.


Sebenarnya dari screenshot saja sudah nampak kesalahan pertama saya, yaitu menanggapi postingan dari akun anonim! itu aja sudah buang-buang energi.
Kesalahan kedua saya adalah membaca komentar netizen, itu salah banget deh, apalagi kalau tema nya seperti ini, jelas isinya opini yang penting marah aja.
Tapi ya saya terlanjur terpancing dan mencari tahu, jadi ya mari kita crosscheck dikit.
Kalau baca komentar netizen, tentu alasan utama Pertamina merugi tidak lain dan tidak bukan adalah korupsi, titik, musuh utama semua manusia. Tapi menurut saya itu jawaban super males yang tidak berarti apa-apa, seperti waktu sekolah ditanya “kenapa xxxx” jawabannya “takdir pak!”, males banget mikir.

Saya tidak bermaksud mengkerdilkan tindakan korupsi, apalagi meniadakannya, tapi saya merasa perlu dilihat lebih detail, beneran deh, memang kenapa sih Pertamina bisa rugi? kenapa sih Petronas bisa untung lebih banyak?
Tapi sebelum lebih jauh, saya lebih fokus ke masalah inti:
Apakah Pertamina memang bener rugi?
Untuk menjawab pertanyaan ini sebenarnya gak repot, gak perlu nebak dan berasumsi, Pertamina sebagai BUMN punya kewajiban untuk mempublikasi laporan keuangan, jadi tinggal pergi ke website Pertamina > Hubungan Investor > Laporan Keuangan, bisa langsung download laporan keuangan, singkatnya tinggal klik ini: https://www.pertamina.com/laporan-keuangan.
Lalu saya coba download laporan keuangan tahun 2024, dan untuk tahu apakah Pertamina rugi atau tidak itu simple dan gak perlu pemikiran gimana-gimana, paling gampangnya tinggal buka kolom laba-rugi halaman 5-6, paling akhir disebutkan bahwa laba sebesar USD 3.217.870.000, memang menurun dari tahun 2023, tapi… itu angka positif, bukan angka negatif, yang artinya.. ya profit, bukan rugi.

Kalau mau lebih jauh dikit, halaman selanjutnya, halaman 9-10, arus kas, dan lagi-lagi kas aktivitas operasional juga positif, kas akhir juga positif.

Hmm… berdasarkan laporan keuangan ini, tidak ada tanda-tanda kerugian, benar bahwa pendapatan menurun di tahun 2024, tapi tetap profit dan gak rugi.
Jadi narasi Pertamina rugi itu sebenarnya sudah salah, karena ya Pertamina profitable company.
Tapi kan itu dibantu sama subsidi pemerintah?
Iya benar bahwa pemerintah bisa dibilang menyuntik subsidi ke Pertamina, tapi menurut saya ini gak bisa dibilang bantuan Pemerintah kepada Pertamina, melainkan bantuan dari Pemerintah kepada masyarakat.
Jadi gini, Pertalite itu harga aslinya kalau beli di swasta (Shell dll) itu harganya RP. 12.900-an, jadi bisa dibilang harga pasaran Pertalite itu sekian, lalu Pemerintah menunjuk Pertamina untuk menjual di harga dibawah itu supaya masyarakat bisa membeli lebih murah, jadi lah harga nya turun menjadi Rp. 10.000, dengan catatan selisihnya Rp 2.900 ditanggung Pemerintah. (ps: saya gak tahu harga aslinya, cuma ambil dari berita disini)
Jadi bukannya Pemerintah membantu Pertamina, tapi ya itu biaya yang yang harus dibayar Pemerintah kepada Pertamina untuk nombokin selisih harga supaya masyarakat bisa dapat Pertalite murah (BBM).
Kalau Pemerintah gak mau nombokin, ya Pertamina bakal jual pertalite di harga aslinya, jadi mau ada subsidi atau gak uang asli yang diterima Pertamina untuk pertalite ya tetap sama. Cuma masyarakat mesti bayar lebih mahal.
Terus kenapa “Pertamax” di Malaysia lebih murah?
Jawaban simpel nya, karena di Malaysia gak ada Pertalite, jadi pemerintah memberikan subsidi ke masyarakat itu untuk Pertamax versi mereka. Sedangkan di Indonesia, yang diberi bantuan itu Pertalite.
Kenapa pemerintah Indonesia gak subsidi Pertamax? ya bisa aja, tapi berarti Pertalite di hapus, lalu misal me-refer ke harga dan subsidi diatas, dimana Pemerintah nombok Rp. 2.900, sedangkan harga Pertamax sekarang ada di Rp. 13.900-an, maka ya harga versi subsidi jadi Rp. 11.000, yang artinya lebih mahal Rp. 1.000 dari Pertalite.
Terus nanti masyarakat bakal protes karena BBM naik Rp. 1.000, semua-semua harga ikut naik, Pemerintah lagi yang salah.
Malah, dengan adanya Pertalite dan Pertamax ini saya merasa sudah betul, jadi masyarakat yang membutuhkan bisa beli Pertalite, harga lebih murah karena subsidi Pemerintah, dan untuk kaum yang berkecukupan bisa beli Pertamax, jadi tidak mengambil subsidi Pemerintah, dengan begitu subsidi Pemerintah bisa lebih tepat guna.
Ya walaupun di lapangan, yang berkecukupan juga pergi beli Pertalite, yang mana artinya mengambil jatah subsidi dari masyarakat yang seharusnya. Jadi ironis, bilang Pemerintah korupsi, tapi tetap membeli Pertalite yang bukan haknya 🫣.
Terus kenapa Petronas bisa profit lebih besar?
Kalau yang ini saya gak tau pasti, bukan bidang saya, tapi artikel ini saya rasa cukup jelas, salah satunya: Malaysia itu negara net export minyak, artinya minyak yang dihasilkan jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan sampai bisa diekspor keluar, jadinya tambahan pendapatan.
Sedangkan Indonesia, itu net import minyak, artinya minyak yang dihasilkan bahkan gak cukup untuk kebutuhan, jumlah masyarakat juga jauh lebih banyak dan tersebar di kepualuan, jadi mesti tambah import yang artinya jangan pendapatan yang ada malah biaya ekstra.
Sosial Media
Hal-hal seperti ini yang membuat sosial media itu toksik dan memang bagusnya untuk dijauhi. Ada banyak informasi yang gak lengkap yang bisa disalahartikan, sengaja atau tidak, atau malah 100% salah dan tidak berdasar, tapi crowd enggan crosscheck, langsung dimakan mentah-mentah, pokoknya marah-marah.
Ada yang menarik dari narasi Pertamina vs Petronas ini, saya ingin mencari darimana berita yang mengatakan demikian, saya gak ketemu tapi malah ketemu salah satu postingan Facebook.
Inti postingan Facebook tersebut menjelaskan bahwa Pertamina itu gak rugi, malah untung (basically kurang lebih seperti yang saya bahas diatas dari laporan keuangan). Lengkap dengan pembahasan dan infografisnya. Menariknya: penggunanya pada gak baca pembahasan, bahkan gak baca infografis, semua langsung komen dengan 1 tema, RUGI karena KORUPSI. sumber postingan Facebook.



Postingannya gak salah, gak buat narasi ambigu, gak buat opini gimana-giman, bahkan ada gambarnya, tetep komen nya 100% berkebalikan dari apa yang diposting, darurat membaca memang.
Sekali lagi, saya tidak mengkerdilkan tindakan korupsi, atau malah meniadakannya, tapi saya mengajak untuk lebih aware, lebih suka crosscheck, terutama untuk berita atau informasi yang bisa memancing amarah, jadi gak sekedar marah-marah di online tanpa mencari info.
Hati boleh marah, kepala tetap dingin, tangan mesti lebih sabar kalau cuma mau misuh-misuh online 😄