Windows 11

Sudah 1 bulan ini saya mengganti OS di PC saya menggunakan Windows 11. Sebelumnya saya menggunakan Fedora dan sebenarnya saya lagi eksperimen untuk beralih ke Ubuntu untuk uji coba apakah Ubuntu beneran user-friendly dan siap digunakan untuk user harian? jawabannya iya dan sebenarnya sudah enak banget, saya hanya mengandalkan Ubuntu store untuk instalasi aplikasi tambahan, sudah coba main game dari Steam yang juga lancar jaya (Thanks Valve!), oke banget deh.

Tapi cukup sampai disitu, kembali ke topik utama Windows 11.

Semua ini berawal dari setelah sekian tahun menggunakan PC akhirnya saya membeli graphic card, dan walaupun berjalan lancar dan aman di Ubuntu yang mana langsung detek dan fungsional! Saya ingin mencoba untuk bermain game lebih banyak. Karena walaupun sudah banyak game Steam yang support di Ubuntu dan Linux in general, ada beberapa game terutama yang kompetitif yang tidak bisa dimainkan di Linux, contohnya seperti FC26, PUBG, Battlefield, COD dan lainnya. Selain itu berapa game lain juga kadang suka masalah jika dimainkan di Linux.

So okay saya coba lagi menggunakan Windows.

Saya terakhir menggunakan Windows itu windows 7 pada masa kuliah, masalah klasik: skripsi yang agak susah dan tricky kalau dikerjain di Openoffice pada masa itu. Tapi saya juga sempat untuk mencoba menginstall Windows 11 sebelumnya, tapi banyak banget masalahnya dan ya saya gak suka aja karena semua workflow pekerjaan saya jadi berubah dan terganggu dan harus diakui, gak terbiasa.

Kali ini sedikit berbeda, saya mencoba mengikuti bagaimana user experiences dari Windows sebenarnya, dan saya juga sudah research beberapa hal sebelum akhirnya beneran install jadi saya merasa PD dan juga sudah berusaha open-minded untuk mencoba lagi :).

Installasi

Jujurnya saya lupa saya sudah menulis tutorial untuk installasi Windows 11 sebelumnya, sehingga kali ini pun saya merasakan hal yang sama, susah banget asli untuk installasi. Bahkan menyiapkan USB installasi saja susah. Windows punya tools untuk membuat USB installasi, tapi tools tersebut hanya bisa digunakan oleh… pengguna Windows (.exe), sehingga untuk orang seperti saya yang punya OS Mac, Linux, tidak bisa menggunakannya, Ini aneh banget, bukannya senang dan membantu sepertinya Windows tidak tertarik dengan kemudahan bagi pengguna OS lain untuk bermigrasi ke Windows.

Setelah sekian kali mencoba membuat USB installasi dan selalu gagal, akhirnya berhasil, dan bukan menggunakan Vention yang mana itu adalah tools yang direkomendasiin dimana-mana, saya lupa tools apa yang saya gunakan, tapi instalasi sukses.

Debloating Windows

Okay berdasarkan research saya, ada banyak orang yang merekomendasikan untuk Debloating Windows, alias membuang semua hal yang tidak penting dan terkesan tidak berguna dan malah mengganggu pada sistem operasi Windows. Saya pikir, tidak, saya akan menggunakan Windows as it should be, dan menolak menggunakan script atau package dari individu.

Oh,, ternyata saya salah besar.

Saya mencoba bertahan, tapi ya ampun, secara default Windows 11 beneran ganggu mata, ada banyak ‘fitur bawaan’ yang asli mengganggu dan ngeselin, feature AI dimana-mana, Bing yang ganggu banget, Onedrive, Start menu yang penuh dan hal lainnya

Jadi ya sudahlah saya install Windows Debloat tool dari Titus, dan centang beberapa hal (jujurnya saya lupa), restart dan… bersih!, Sekarang windows desktop menjadi lebih bersih dan normal. Serius, saya rekomendasiin tool ini untuk yang baru install Windows 11.

The Good Things

UI, Setelah setup ini itu, saya suka dengan User Interface (UI) di Windows 11, saya suka tampilan halaman settings, terasa modern dan proper. Saya juga suka tampilan Windows Store, sleek, animasi dan pemilihan warna untuk light and dark theme nya itu soft dan enak aja.

WSL2! tentu saja ini yang menjadi fokus utama saya, karena ini terkait dengan bisa tidaknya saya bekerja menggunakan Windows. Pada percobaan installasi sebelumnya saya sudah mencoba WSL juga, tapi saya menemukan kerumitan penggunaan karena saya melihat WSL sebagai VM, kali ini saya melihat WSL sebagai beneran tempat kerja saya. Saya menemukan bahwa aplikasi Terminal di Windows 11 bisa dibuat supaya otomatis menggunakan WSL, dengan begitu ketika saya buka terminal saya langsung masuk ke /home directory WSL (saya menggunakan Ubuntu), ini saja sudah membantu banget, jadi saya menggunakan Windows untuk Desktop, tapi begitu buka terminal saya langsung ada di lingkunan Linux, network juga langgsung terkoneksi, file juga bisa diakses via Windows Explorer, beneran seperti punya 2 sistem jadi 1!

Berikutnya Xbox Gamepass! ini menarik banget, subscription untuk gaming, Rp. 80.000 untuk menginstall game-game yang harganya lumayan juga menurut saya worth it banget, tapi sampai 1 bulan ini pun saya tidak sempat mencoba karena masih ada banyak game dari Steam yang sudah dibeli duluan, momen nya tabrakan banget dengan Steam sale yang membuat saya membeli game di Steam duluan.

Tentunya Game kompatibilitas juga, kerasa berbeda buka Steam dan cari game yang akan dimainkan tanpa harus memeriksa ProtonDB untuk mengetahui game tersebut apakah bisa dimainkan di Linux.

Mystic Light, ini gak penting-penting banget, tapi aplikasi ini bawaan Motherboard MSI yang akhirnya bisa membantu saya mematikan RGB di ram saya, setelah sekian tahun salah beli dan agak terganggu melihat stick RAM menyala, akhirnya saya bisa mematikannya :D.

Saya mencoba mengingat apalagi hal bagus yang bisa saya tulis, tapi jujurnya, saya tidak tahu lagi karena kalau bukan karena faktor gaming saya rasa saya prefer menggunakan Linux. Untungnya juga WSL cukup membantu saya untuk tetap bekerja layaknya bagaimana saya bekerja seperti biasanya di Linux, jadi tidak terlalu masalah.