Tentu saja semua orang apalagi “Nakama” sedang hype ke One Piece Live Action season 2, saya baru nonton beberapa episode awal dan wow, season 1 is okay, tapi season 2 ini beneran naik level banget.

Tapi dari sekian banyak video “behind the scene” Live Action ini, saya ketemu dan paling suka video 1 ini, tentang kostum yang digunakan dalam serial tersebut, dan detail yang diberikan benar-benar luar biasa. Bahkan ada banyak hal yang saya baru sadar kalau di versi manga nya memang didesain seperti itu.

Namanya juga manga, Oda menggunakan kreatifitas yang luar biasa untuk membuat banyak karakter desain yang jujur saja kadang aneh, dan somehow tim kostum ini bisa merealisasikan dalam bentuk fisik. Kudos untuk tim kostum ini.

We’ll miss the feeling of holding code in our hands and molding it like clay in the caress of a master sculptor. We’ll miss the sleepless wrangling of some odd bug that eventually relents to the debugger at 2 AM. We’ll miss creating something we feel proud of, something true and right and good. We’ll miss the satisfaction of the artist’s signature at the bottom of the oil painting, the GitHub repo saying “I made this.”

https://nolanlawson.com/2026/02/07/we-mourn-our-craft/

Saya merasa nostalgia, ya awal mula saya belajar programming dulu sekali, terus lanjut sampai lulus kuliah, kerja, saya masih menikmati setiap bari kode yang saya ketik. Kalau sudah ketemu suatu solusi dengan logik menarik itu jadi kepuasan tersendiri.

Tapi jujur saja, saya sudah tidak berada di umur itu, umur saat ini mengharuskan saya lebih cepat selesai, kadang juga mengerjakan hal yang berulang, “coding” di malam hari atau weekend bukan lagi atas dasar hobi dan ketertarikan, melainkan pekerjaan yang kalau bisa saya hindari karena harus berbagi waktu dengan keluarga.

Mungkin suatu hari nanti akan ada masa dimana saya kembali menikmati segala proses koding, pencarian bug, penemuan solusi, logika menarik, tapi untuk sekarang, saya memilih cepat selesai dan menugaskan AI Coding Agent untuk membantu saya menyelesaikan koding pekerjaan saya.

Sebenarnya ini bukan yang pertama, dulu banget pernah rafting di Bandung bareng rekan kerja disana, dan seingat saya bisa dibilang prosesnya tenang, sungai nya tenang dan gak dalam, rasanya hanya sebetis, jadi saya pede Rafting kali ini dengan teman-teman di kantor yang sekarang kurang lebih sama, ternyata gak 🙂

Rafting kali ini diadakan di Kuala Kubu Bharu, sungai nya panjang sehingga rute nya lumayan lama. Selain itu cuaca nya juga sangat “mendukung” karena beneran lagi badai hujan besar, jadi angin dan tetesan hujan itu heboh, selain itu debit dan laju air juga lagi peak-nya.

Seru 🚣‍♂️

*foto-foto tentu saja bukan dari saya, tapi dari panitia.

Dokumentasi kegiatan outbond di sekolah, dan kali ini di KPJ Playland.. Lagi.. karena sebelumnya pun sudah pernah. Bedanya sekarang karena kelas besar jadi ada beberapa wahana yang boleh digunakan. Selebihnya ternyata masih sama seperti tahun lalu, belum ada perubahan.

Kesampaian juga nonton Papa Zola setelah pertama rilis Desember 2025 lalu di Malaysia, akhirnya rilis di Indonesia 23 Januari kemarin, dan hasilnya melebih ekspektasi, fun banget film nya. Rasanya gak ada jeda, dari awal sampai akhir seru dan menarik.

Saya suka cerita, alur dan penyampaiannya, bahkan joke nya, bisa menangkap dan menghibur usia dewasa dan anak-anak, tidak terlalu anak-anak sehingga orang tua jadi males memperhatikan tidak juga terlalu dewasa dimana bikin anak-anak jadi tidak menangkap maksudnya, karena jujur aja kebanyakan animasi lokal biasanya kurang dibagian ini.

Gak salah kalau film ini mengalahkan Avatar dan Zootopia dari segi penayangan di Malaysia sana, penasaran di Indonesia bagaimana, karena harusnya oke sih. Sayangnya rilis nya di Januari, coba rilis desember seperti di Malaysia kemungkinan akan lebih banyak penonton karena seperti di Malaysia bakal bertepatan dengan libur sekolah yang biasanya sukses.

Ini maaf-maaf ini, tapi kalau review saya pribadi, Papa Zola > Jumbo, itu bahkan tanpa memperhitungkan animasi nya, murni dari cerita, alur dan penyampaiannya. Lebih asik berfantasi dengan dunia simulasi dan alien daripada melawan mafia tanah dengan bantuan roh penasaran.

Tesla kills Autopilot, locks lane-keeping behind $99/month fee

Now, if you buy a new Tesla and  want it to steer itself—while you pay attention to the road—you will have to pay for FSD. Until the middle of February, that can be done for a one-time fee of $8,000. But starting on February 14, that option goes away, too, and the sole choice will be a $99/month FSD subscription.

https://arstechnica.com/cars/2026/01/tesla-wants-recurring-revenue-discontinues-autopilot-in-favor-of-fsd

Ha, Tesla yang sudah dikenal sebagai pionir mobil autopilot (bisa didebat, tapi Tesla bikin jadi populer), membuat update dimana sekarang mobil mereka gak autopilot lagi, untuk bisa menggunakan autopilot mesti beli “add on” seharga $8000 sebelum 14 Februari, setelah itu jadi subscription bayar bulanan $99!

Bayangin beli mobil yang khusus autopilot tapi fitur autopilotnya subscription, kalau gak bayar subscription jadi mobil biasa. lah aneh.

Ini lah yang disebut dengan “enshittification“, yang artinya mengubah sesuatu yang tadinya baik-baik saja, malah diupdate supaya makin jelek kecuali melakukan pembayaran ekstra, yang mana fitur ekstra tersebut tadinya bukan gratis tapi ya memang fitur utama. Menariknya lagi, link artikel enshittification yang saya link itu mengambil contoh dari Twitter, jadi ada kesinambungan disini dengan Elon Musk. Doi sepertinya pakar dibidang enshittification produk.