Beberapa hari lalu sempat ikut menyaksikan diskusi one piece ini oleh tim Malaka, sebelumnya juga sebenarnya sudah pernah diskusi sejenis tapi karena ada batasan episode jadi sangat terbatas banget, nah kali ini tak ada batasan tersebut jadi beneran ngalir, dan 3 jam! walaupun saya gak sampai selesai.

Ada beberapa hal yang saya beneran setuju banget, setelah era gear 5 atau awakening, sudah gak masuk akal dan cenderung berlebihan, tapi ini hanya berdasarkan pada versi anime, saya jadi penasaran versi manga nya apakah masih oke atau gimana.

Tapi yang pasti ya bener bahwa setelah Timeskip, vibe dari One Piece sendiri sudah berbeda. Kebetulan beberapa waktu ini rewatch beberapa arc awal One Piece bersama anak-anak, dan kerasa banget sebelum Timeskip, One Piece itu beneran fun, seru dan lucu, dan kita bisa menikmati dengan santai. Setelah Timeskip itu sudah jadi serius. Candaan Oda masih ada dan kena, tapi sudah beda lah.

Mungkin juga karena secara timeline, era sebelum Timeskip itu cuma kurang dari 6 bulan, ya dari awal berlayar sampai masa Timeskip itu gak lebih dari 6 bulan, lalu Timeskip 2 tahun, jadi bisa dibilang mungkin kru topi jerami jadi lebih dewasa, tapi jadi beda vibe nya.

Satu lagi, ternyata walaupun tujuannya untuk fun, dan untuk tema yang saya bisa relate, tetap saja, yang namanya debat itu tetap tidak fun untuk didengar, berisik dan ribut ketika semua orang punya pendapat masing-masing dan susah menerima pendapat lain dan cenderung memaksakan ke orang lain šŸ™‚

Ask Gemini?

Sejak kemarin rasanya, tombol “Ask Gemini” muncul di Google Chrome, bukan cuma itu, bahkan di menu bar, yang bar hitam itu, paling kiri ada logo Gemini.

Saya gak suka banget nih yang begini, tiba-tiba nambahin tombol/icon yang gak diinginkan, ganggu banget.

Untuk mematikan fitur tersebut, bisa buka ini:

chrome://settings/ai/gemini

terus matiin fitur “show Gemini”

dengan begitu jadi clean lagi, tanpa icon gemini lagi.

Tentu saja semua orang apalagi “Nakama” sedang hype ke One Piece Live Action season 2, saya baru nonton beberapa episode awal dan wow, season 1 is okay, tapi season 2 ini beneran naik level banget.

Tapi dari sekian banyak video “behind the scene” Live Action ini, saya ketemu dan paling suka video 1 ini, tentang kostum yang digunakan dalam serial tersebut, dan detail yang diberikan benar-benar luar biasa. Bahkan ada banyak hal yang saya baru sadar kalau di versi manga nya memang didesain seperti itu.

Namanya juga manga, Oda menggunakan kreatifitas yang luar biasa untuk membuat banyak karakter desain yang jujur saja kadang aneh, dan somehow tim kostum ini bisa merealisasikan dalam bentuk fisik. Kudos untuk tim kostum ini.

We’ll miss the feeling of holding code in our hands and molding it like clay in the caress of a master sculptor. We’ll miss the sleepless wrangling of some odd bug that eventually relents to the debugger at 2 AM. We’ll miss creating something we feel proud of, something true and right and good. We’ll miss the satisfaction of the artist’s signature at the bottom of the oil painting, the GitHub repo saying ā€œI made this.ā€

https://nolanlawson.com/2026/02/07/we-mourn-our-craft/

Saya merasa nostalgia, ya awal mula saya belajar programming dulu sekali, terus lanjut sampai lulus kuliah, kerja, saya masih menikmati setiap bari kode yang saya ketik. Kalau sudah ketemu suatu solusi dengan logik menarik itu jadi kepuasan tersendiri.

Tapi jujur saja, saya sudah tidak berada di umur itu, umur saat ini mengharuskan saya lebih cepat selesai, kadang juga mengerjakan hal yang berulang, “coding” di malam hari atau weekend bukan lagi atas dasar hobi dan ketertarikan, melainkan pekerjaan yang kalau bisa saya hindari karena harus berbagi waktu dengan keluarga.

Mungkin suatu hari nanti akan ada masa dimana saya kembali menikmati segala proses koding, pencarian bug, penemuan solusi, logika menarik, tapi untuk sekarang, saya memilih cepat selesai dan menugaskan AI Coding Agent untuk membantu saya menyelesaikan koding pekerjaan saya.

Kesampaian juga nonton Papa Zola setelah pertama rilis Desember 2025 lalu di Malaysia, akhirnya rilis di Indonesia 23 Januari kemarin, dan hasilnya melebih ekspektasi, fun banget film nya. Rasanya gak ada jeda, dari awal sampai akhir seru dan menarik.

Saya suka cerita, alur dan penyampaiannya, bahkan joke nya, bisa menangkap dan menghibur usia dewasa dan anak-anak, tidak terlalu anak-anak sehingga orang tua jadi males memperhatikan tidak juga terlalu dewasa dimana bikin anak-anak jadi tidak menangkap maksudnya, karena jujur aja kebanyakan animasi lokal biasanya kurang dibagian ini.

Gak salah kalau film ini mengalahkan Avatar dan Zootopia dari segi penayangan di Malaysia sana, penasaran di Indonesia bagaimana, karena harusnya oke sih. Sayangnya rilis nya di Januari, coba rilis desember seperti di Malaysia kemungkinan akan lebih banyak penonton karena seperti di Malaysia bakal bertepatan dengan libur sekolah yang biasanya sukses.

Ini maaf-maaf ini, tapi kalau review saya pribadi, Papa Zola > Jumbo, itu bahkan tanpa memperhitungkan animasi nya, murni dari cerita, alur dan penyampaiannya. Lebih asik berfantasi dengan dunia simulasi dan alien daripada melawan mafia tanah dengan bantuan roh penasaran.

Tesla Autopilot

Tesla kills Autopilot, locks lane-keeping behind $99/month fee

Now, if you buy a new Tesla and Ā want it to steer itself—while you pay attention to the road—you will have to pay for FSD. Until the middle of February, that can be done for a one-time fee of $8,000. But starting on February 14, that option goes away, too, and the sole choice will be a $99/month FSD subscription.

https://arstechnica.com/cars/2026/01/tesla-wants-recurring-revenue-discontinues-autopilot-in-favor-of-fsd

Ha, Tesla yang sudah dikenal sebagai pionir mobil autopilot (bisa didebat, tapi Tesla bikin jadi populer), membuat update dimana sekarang mobil mereka gak autopilot lagi, untuk bisa menggunakan autopilot mesti beli “add on” seharga $8000 sebelum 14 Februari, setelah itu jadi subscription bayar bulanan $99!

Bayangin beli mobil yang khusus autopilot tapi fitur autopilotnya subscription, kalau gak bayar subscription jadi mobil biasa. lah aneh.

Ini lah yang disebut dengan “enshittification“, yang artinya mengubah sesuatu yang tadinya baik-baik saja, malah diupdate supaya makin jelek kecuali melakukan pembayaran ekstra, yang mana fitur ekstra tersebut tadinya bukan gratis tapi ya memang fitur utama. Menariknya lagi, link artikel enshittification yang saya link itu mengambil contoh dari Twitter, jadi ada kesinambungan disini dengan Elon Musk. Doi sepertinya pakar dibidang enshittification produk.

Self-made App

All of these $10/month apps are suddenly a weekend project for me. I’m an engineer, but I have never written a single macOS application. I’ve never even read Swift code in my life, and yet, I now can get an app up and running in a couple of hours. This isĀ crazy.

https://rselbach.com/your-sub-is-now-my-weekend-project

Sama seperti sebelumnya, Micro App. Pada dasarnya dengan bantuan AI, akan ada banyak aplikasi buatan sendiri yang akan menggantikan aplikasi-aplikasi kecil yang berbayar atau apalagi subscription.

Idenya, kalau memang perlu aplikasi untuk kegiatan harian, tapi lelah dengan subscription yang kadang dirasa gak sebanding, yaudah buat aja sendiri.

Ide seperti ini sebenarnya sudah umum sejak lama, tapi ya walaupun programmer dan punya skill buat bisa bikin sendiri tentu saja belum tentu punya waktu dan ya menurut pengalaman saya mood dan semangat sangat berpengaruh untuk keberlanjutan mengerjakan suatu aplikasi apalagi untuk keperluan sendiri.

Jadi sepertinya dan harusnya, akan ada banyak aplikasi self-made untuk kebutuhan sendiri, mungkin beberapa yang bagus akan di-monetize ulang jadi SaaS lagi, yang akan bikin SaaS makin susah persaingan karena ya semakin banyak pembuatnya.

Baru ketemu ini: https://hcker.news/

Ini adalah website yang menampilkan postingan di HackerNews, tapi bisa difilter hanya menampilkan website yang masuk kategori Small Web.

HackerNews adalah.. saya susah menjelaskan, dibilang sosial media ya boleh juga, tapi isinya orang sharing link berita atau artikel yang menarik versi “hackernews community”. Buka aja langsung di: https://news.ycombinator.com/news

Small web adalah istilah yang digunakan untuk website yang sifatnya personal, bukan komersial dan berisi konten yang.. bebas. Personal blog lah. Paling enak bisa baca penjelasan Kagi https://blog.kagi.com/small-web.

Nah lalu ada salah satu user hackernews yang bikin website untuk menampilkan postingan dari hackernews tapi bisa difilter salah satunya filternya adalah small web, jadi hanya menampilkan postingan yang dimiliki oleh personal.

Ini seperti hidden gem gitu, bisa nemu blog-blog yang menarik karena ya isinya sudut pandang personal, bukan ala perusahaan atau media atau standard blog yang meng-abuse SEO. Biasanya website personal juga lebih secara tampilan lebih simpel, enak dibaca, dan gak ada iklan.

Salah satu alternatif lain adalah https://bearblog.dev/discover/ isinya small web tapi ya khusus tulisan yang ada di platform blog Bear saja.

Saya pernah dapat 1 lagi juga, tapi lupa di bookmark dan hilang saja gitu, gak ketemu lagi dicari-cari. Sayang banget.

Here’s what I’ve noticed since then: the heyday of social media feels like it’s behind us. In my opinion, Facebook peaked in 2008. Back then, it was about connecting with friends, sharing actually interesting updates about our lives. Minimal ads. It felt genuine.

Now? Wannabe influencers everywhere. More ads and brand accounts in your timeline than content from people you actually know. Bots running campaigns to get engagement through false things or distortions of reality. It’s exhausting.

https://danielleheberling.xyz/blog/mindful-social-media

Iya bener banget, media sosial dulunya itu beneran update yang personal yang ya masih asik buat tetap berhubungan dan koneksi ke teman-teman yang dekat maupun yang jauh secara jarak, supaya tetap silaturahmi istilahnya.

Setelah itu berganti ke era “content creator”, dimana postingan berasa (dan memang) iklan, atau ya tidak genuine lagi, belum lagi algoritma sosial media sekarang mereka berlomba untuk memasukkan konten dari akun-akun lain yang bahkan kita gak tau tampil di feed kita karena algoritma merasa postingan tersebut relate dengan kita atau lingkungan kita, yang mana memang bener, tapi jadi echo chamber.

Tapi walaupun begitu, ada beberapa hal yang masih bisa saya ambil manfaat dari sosial media, walaupun sudah bukan sesuai tujuan “sosial”. Saya masih menggunakan facebook untuk mencari barang di group jual beli lokal, atau cari informasi kafe atau suatu tempat wisata di Instagram biasanya mereka lebih update.