FotoYu

Ah, akhirnya memang cuma masalah waktu sampai akhirnya aplikasi FotoYu ramai dengan segala kontroversinya. Belakangan ramai di berbagai sosial media, Bahkan Ecommurz sampai ada 2 postingan ๐Ÿ˜€ satu dan dua. Saya juga gak sreg sama sistem kerja FotoYu ini, sudah sejak lama saya posting, apalagi yang malah diluar FotoYu, lebih kacau lagi.

Privacy

Masalah utamanya adalah privasi, ini hal yang nampaknya kecil untuk sebagian orang, apalagi si fotografer. Serius, tidak semua orang mau difoto, di beberapa tempat malah beneran gak boleh foto, di beberapa negara itu legal serius.

Masalahnya, untuk beberapa orang hal ini dianggap sepele, apalagi dari sisi fotografernya yang ya bisa dimaklumi karena ini terkait mata pencaharian. Ada beberapa alasan yang biasanya dipakai, seperti area publik, sistem privasi dari FotoYu sendiri, dan lainnya, yang mana saya sebagai orang yang hobi foto juga ngerti sebenarnya ada garis batasnya, tapi fotografer memilih mengaburkannya, ya balik lagi ini masalah mata pencaharian.

Ruang Publik

Ini alasan paling pertama yang sering dipakai fotografer FotoYu, mereka melakukan foto di area publik jadi merasa sah dan bebas untuk foto. Harus diakui ini benar, dan belum ada aturan khusus untuk ini di negara kita ini, tapi ada namanya etika dan batas privasi yang tetap dibawa masing-masing individu. Bukan berarti ketika dia area publik kita jadi bebas menembus batas privasi tiap orang.

Sama seperti setiap akun sosial media yang komplain dan mengomentari kegiatan fotografer FotoYu, kalau mengikuti aturan main “ruang publik” mereka, harusnya mereka gak boleh marah dan tersinggung kalau dikatain, karena internet area publik, so gak boleh marah dong? ๐Ÿ˜‰

Termasuk juga kalau ada yang komplain dan marah langsung ke fotografer on the spot, sah saja, kan area publik, area bersama, bukan area fotografer, gitu kan ya aturan mainnya?

Banyak yang lupa bahwa ya walaupun bebas ambil foto di area publik, si objek foto juga bebas untuk menolak, komplain dan meminta foto untuk di takedown, ini yang sering dilupakan, respect dan kebebasan itu berlaku 2 arah.

Street Photography

Di dunia fotografi ada genre Street Photography, kalau di WikiPedia artinya:

Street photography is photography conducted for art or inquiry that features unmediated chance encounters and random incidents[1] within public places. It usually has the aim of capturing images at a decisive or poignant moment by careful framing and timing. Street photography overlaps widely with candid photography, although the latter can also be used in other settings, such as portrait photography and event photography.

Street photography can focus on people and their behavior in public. In this respect, the street photographer is similar to social documentary photographers or photojournalists who also work in public places, but with the aim of capturing newsworthy events. Any of these photographers’ images may capture people and property visible within or from public places, which often entails navigating ethical issues and laws of privacy, security, and property.

Fotografer FotoYu sering menyamakan kegiatan mereka dengan Street Photography, karena sama-sama “mendokumentasikan” aktivitas orang-orang di area publik.

Padahal ada beberapa hal yang benar-benar membedakan Street Photographer vs Fotografer FotoYu, kalau Street Photographer lebih fokus ke Art, Story, Documentation, ada cerita yang ingin disampaikan dibalik sebuah foto, ada objek yang bisa menarik penasaran dan opini dari audience foto. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh Fotografer FotoYu.

Fotografer FotoYu biasanya:

  1. Fokus dengan 1 orang objek foto
  2. Pakai lensa panjang, supaya bisa close up ke 1 objek
  3. Pakai lensa bukaan lebar, background menjadi bokeh

Gak ada cerita disitu, itu masuknya adalah Portrait malah karena ya fokus ke 1 objek itu doang. Disitu juga lingkup area publik hilang menjadi lingkup area privasi karena ya objek nya 1 itu doang, bahkan backgroundnya di blur dan bokeh sampai hilang, tinggal lah 1 objek, pribadi, yang gak masuk ke lingkup “area publik”.

Singkatnya:

  1. Mengambil foto sebuah event lari, misal keramaian di garis start/finish, pembukaan acara, kemeriahan suasana, ini gak masalah, karena esensi fotonya adalah suasana, cerita dan dokumentasi dari event tersebut
  2. Mengambil foto sebuah event lari, fokus ke individu tertentu, close up, background yang menjadi cerita di blur, itu bukan lagi sebuah dokumentasi acara, tapi dokumentasi individu tersebut.

Bahkan Street Photography yang bener pun akan minta ijin untuk individu yang kena foto, bahkan gak berdebat kalau si individu komplain, delete foto depan orangnya dan move on, gak pakai bawa-bawa alasan area publik dan lainnya. Cukup mengakui salah dan move on.

Penyalahgunaan Data

Untuk fotografer atau orang-orang yang merasa aneh kenapa hal seperti ini diributin, cuma foto doang, coba deh buka google, terus lakukan pencarian “instagram pelari cantik“, kamu akan menemukan banyak akun instagram anonim pengkoleksi foto-foto perempuan yang sedang jogging dengan penampilan sporty-nya.

Bagaimana kalau itu adalah foto kamu, foto orang yang kamu kenal, atau keluargamu atau anak-anakmu?

edit tambahan 14/01/2026: sekarang lagi ramai berita dimana pengguna Twitter bisa meminta Grok untuk mengedit foto secara instant dan seringnya dalam pose dan pakaian tidak layak, apa gak kuatir tu foto lari estetik disalahgunakan?


Oke cukup untuk fotografernya, gak lengkap kalau gak bahas sistem nya sendiri, FotoYu.

Perlindungan Data

Saya akui, saya juga sempat membeli foto di FotoYu, karena saya mengikuti event lari, dan saya memang memasang pose untuk difoto. Dari situ saya juga paham sistem kerjanya.

Sistem proteksi FotoYu adalah: Foto yang diupload ke FotoYu oleh fotografer tidak serta merta jadi foto publik, hanya orang yang mukanya sama yang bisa melihat foto tersebut dengan sistem AI pengenalan wajah mereka. Walaupun praktiknya saya juga sering melihat foto orang lain yang menurut sistem mereka mirip dengan muka saya :/

Jadi memang gak semua orang bisa akses, KECUALI foto yang sudah dibeli oleh pemilik fotonya, mereka punya opsi untuk tetap hidden, atau dijadiin publik jadi portfolio si fotografer, dan herannya orang-orang pada mau aja padahal sudah mereka bayar juga, itu kenapa kalau buka website FotoYu ada banyak foto itu, itu adalah foto yang SUDAH dibeli dan SUDAH dikasi ijin pemilik foto untuk dipublikasikan.

Lalu, bagaimana dengan foto yang tidak dibeli, atau foto yang sudah dibeli tapi tidak dipublikasikan? maka ya akan tersimpan di server FotoYu… SELAMANYAAAAAA.

Disini muncul beberapa masalah:

Dimana foto itu disimpan?

Sebagai gambaran, 1 foto dari 1 kamera fotografer, itu bisa puluhan Megabyte, oke? bayangin ada berapa banyak pelari 1 hari di CFD atau event, terus ada berapa banyak kamera dan fotografer yang mangkal dan foto. Belum lagi 1 orang 1 fotografer bisa aja beragam pose, kalau ditotalin semua itu gede, GEDE banget, dan untuk menyimpan data sebanyak itu perlu resources yang gak kecil, besar bro, dan FotoYu ini bisa dibilang bukan Unicorn, bukan perusahaan teknologi besar, dapat sponsor atau gimana. Iya mereka dapat profit dari penjualan foto, tapi cuma berapa persen, dan ya menyimpan media besar di server itu gak mudah dan gak murah.

Tidak ada transparansi juga bagaimana nasib foto-foto itu, adalah gak salah kalau “curiga” bahwa foto-foto tersebut dimonetasi dalam bentuk lain, mungkin sekarang gak, tapi gak tau untuk berapa lama kedepan.

Cuma masalah waktu sampai:

  1. “Diakusisi” perusahaan besar lalu diambil alih semua datanya
  2. Diserang hacker, diambil fotonya dan dijual.
  3. atau cut the middleman, jualan data sendiri.

AI Data Learning

Mestinya kamu sudah familiar sama beberapa software AI yang bisa generate gambar muka dan sebagainya, bagaimana AI bisa menggambar wajah tersebut? ya dari bahan ajarnya, yang merupakan berbagai foto wajah atau foto aktivitas orang. Saat ini bisa dibilang FotoYu itu tambang emas, karena ada banyak gambar individu disitu dan relate dengan data informasinya pula. Nunggu waktu sampai ada perusahaan yang ambil alih, menjadikannya sebagai sumber bahan ajar aja nanti.

FotoYu akan profit besar kalau diakusisi, fotografer FotoYu gak akan dapat ucapan terima kasih walaupun sudah pagi sore, panas hujan dengan senang hati menyerahkan foto yang dibuat dari kamera sendiri ke FotoYu yang menjadi data jualan mereka. Bagaimana dengan orang yang difoto? ya jangan kaget kalau tiba-tiba ada wajah yang kita kenal dalam bentuk dan aktivitas lain yang kita gak tau, berdoa saja semoga konteks nya positif, bukan konteks hal negatif.

Enkripsi

Di halaman “How It Works” mereka, dikatakan semua foto telah di-enkripsi, tapi kita gak pernah tau enkripsi seperti apa, tidak ada audit pihak ketiga.

Dari halaman tersebut juga dijelaskan bahwa enkripsi tersebut aman KECUALI “segelintir top level engineer untuk keperluan maintenance”… hmmm sangat tidak meyakinkan. oh dan yang mukanya mirip!

Contact Support / Laman Pengaduan

Tidak ada mekanisme halaman aduan, halaman untuk menghubungi pihak FotoYu untuk bertanya atau klarifikasi.

Ada sih, tapi harus login, untuk login harus jadi member, untuk jadi member harus upload foto selfie! bayangin kamu mau ngadu tentang penggunaan data tapi harus nyerahin data dulu untuk ngirim komplain, padahal belum tentu diproses!

Fake FotoYu Photographer

Sebenarnya, secara aturan, fotografer FotoYu diharuskan menggunakan jaket/seragam resmi buatan FotoYu, kenyataanya di jalanan ada banyak yang gak menggunakan, malah saya rasanya baru ketemu 1 fotografer yang pakai seragamnya.

Ini jadi masalah karena bagaimana saya bisa tau fotografer yang melakukan foto adalah fotografer FotoYu, bagaimana kalau fotografer tersebut adalah “pencuri data”, stalker, maniak, ya udah ambil foto orang untuk penggunaan yang kita sama sekali gak tau batasannya apa saja. Bahkan yang pakai seragam FotoYu pun gak ada jaminan foto yang dia ambil langsung ke FotoYu, mungkin gak semua, mungkin beberapa foto yang “menarik” digunakan untuk keperluan lain. Siapa yang tahu?


So ya, saya bukan bermaksud membenci Fotografer FotoYu, apalagi dikira tidak memberikan dukungan kepada profesi fotografer lokal (counter yang sering didapat dari sosmed, gak tau kenapa disebut “profesi”). Tapi tolonglah, untuk lebih memakai etika.

Bukan bermaksud menghalangi pencaharian nafkah, ada banyak sumber pendapatan lain untuk fotografer, ya kecuali memang bisanya cuma stalking dijalan.

Tapi jatuhnya sudah ganggu, secara fisik karena nge-camp dipinggir jalan atau di GOR, secara psikis karena ya merasa risih dan diawasi, dan juga ganggu dari sisi digitalisasi penggunaan data pribadi. Jujur saja jadi males untuk pergi ke GOR atau area olahragra karena capek melindungi diri dan anak-anak saya untuk tidak kena foto.

Solusi

Seperti tulisan saya sebelumnya beberapa bulan lalu, kalau mau fotografer harusnya beri informasi kepada orang yang mau difoto agak si objek foto bisa memberikan sinyal atau tanda kalau dirinya mau difoto, jadi bukan spray semua difoto, tapi hanya foto untuk orang yang mau difoto.

Saya pernah melambaikan tangan, menyilangkan tangan, memberikan isyarat untuk tidak difoto, eh malah dikira lagi pose ๐Ÿคฆ

edit: Ini saya nemu contoh bagus di Thread, dia memasang banner besar dimana “Pose = Mau Difoto”, yang mana ini bagus, jadi gak semua individu difoto, cuma yang beneran mau baru difoto.

Lalu dari sisi FotoYu sendiri, harusnya ada halaman aduan, misal seseorang bisa mengajukan diri untuk tidak mau ada foto dia ada di platform FotoYu, maka harusnya FotoYu terbuka untuk ini, bukankah AI Pengenalan Wajah kalian oke?


Bukan apa, kalau makin banyak fotografer FotoYu yang tidak beretika, asal terobos privasi, makin lama makin banyak orang gak respect sama fotografer secara umum, kita-kita yang fotografer hobi, yang benerin dokumentasi kegiatan atau acara, jadi kena efek sinis dan opini negatif juga.