What was once a simple photo sharing app is now a platform for Content with a capital C.

Have you tried simply uploading a photo to Instagram lately? It’s a minefield. Is that a Story, a Post, or a Reel? Do you want to add music? A caption? A prompt, which is… different than a caption, somehow? How about a poll? A fundraiser? More text, but this time on top of the image? Share it to Facebook? On and on and on. I have a simple request to anyone at Meta who is listening: please, just give us our photo sharing app back.

https://www.theverge.com/tech/791595/instagram-uploading-features-content

Ya, dulunya Instagram itu simpel, tempat upload foto, sosial dan selesai. Tapi sekarang sudah banyak tambahan fitur yang sudah gak bisa dibilang aplikasi sharing foto, lebih dikenal sekarang sebagai “Content”.

Paling ngeselin itu bagian discover/explore, foto yang tampil sedikit acak, tapi yang lebih parah bagian video, sama sekali gak sesuai algoritma, sepertinya yang penting viral maka tampil disitu, yang mana ya ganggu karena viral != kualitas.

Sempat nyobain Unsplash, tapi ada banyak hal kecil yang saya kurang sreg, barusan juga nyobain Pexels, tapi baru daftar doang.

Introducing Kagi News
News is broken. We all know it, but we’ve somehow accepted it as inevitable. The endless notifications. The clickbait headlines designed to trigger rather than inform, driven by relentless ad monetization. The exhausting cycle of checking multiple apps throughout the day, only to feel more anxious and less informed than when we started. This isn’t what news was supposed to be.

….

One daily update: We publish once per day around noon UTC, creating a natural endpoint to news consumption. This is a deliberate design choice that turns news from an endless habit into a contained ritual.

Five-minute complete understanding: Our briefings cover everything important in just five minutes. No endless scrolling. No attention hijacking. You read, understand, and move on with your day.

https://blog.kagi.com/kagi-news

Kagi merilis fitur baru, Kagi News, pada dasarnya adalah aplikasi yang akan mengambil beberapa topik berita penting lalu direkap otomatis oleh bantuan AI, jadi kita cukup baca sekilas dan sudah dapat summary apa yang terjadi hari itu.

Ini menarik, dan dulu sebenarnya saya sudah coba buat mirip seperti ini, tapi untuk keperluan sendiri, tapi belum ada AI jadi bikin sistem manual untuk merekap dan mencari topik favorit, dan ternyata susah 😀

Fitur nya pun kurang lebih sama dengan yang saya inginkan, cukup sekali update dan gak perlu waktu lama untuk dapat kesimpulan berita hari itu.

Tapi masalahnya tetap sama dan dengan AI ini adalah si AI tersebut begitu yakin dengan kesimpulan yang dibuat, jadi untuk orang yang males baca full dan menggantungkan pada rekapan versi AI ini (yang mana ya memang alasan utama menggunakan layanan ini) bisa jadi salah paham dan menganggap rekap nya sebagai kebenaran padahal bisa dan sangat mungkin salah rekap. Potensi missinformation malah jadi makin besar.

Laravel Forge

Laravel Forge telah diperbarui dan saya suka desain nya, sama seperti produk Laravel lain, tampilannya fresh, clean, dan ya modern minimalist saja.

Saya lebih suka Laravel Forge ini dibanding dengan Laravel Cloud, karena ya kecuali kamu punya projek super besar global baru Cloud kerasa membantu, untuk yang masih level nasional doang mending Forge deh.

So today, we’re launching a new social iOS app just called “Sora,” powered by Sora 2. Inside the app, you can create, remix each other’s generations, discover new videos in a customizable Sora feed, and bring yourself or your friends in via cameos. With cameos, you can drop yourself straight into any Sora scene with remarkable fidelity after a short one-time video-and-audio recording in the app to verify your identity and capture your likeness.

https://openai.com/index/sora-2

Social app, isinya galeri video yang dibuat dari AI, pada dasarnya ini TikTok, tapi kontennya dari AI.

Kebayang gak sih, sosial media yang ada aja penuh kepalsuan, yang ini malah bener-bener gak real 🤔

Seriusan deh, saya bukannya anti AI, tapi AI seharusnya membantu melakukan hal yang biasa, mundane, supaya kita bisa fokus mengerjakan hal yang menyenangkan mengasah pikiran meningkatkan kreativitas, tapi yang ramai malah AI mengambil alih sisi kreativitas, yang tadinya orang punya skil dan interest untuk seni seperti menggambar, fotografi, membuat video dan lainnya, sepertinya lama-lama skill tersebut hilang diganti skill mengetik perintah prompt. suram.

Saya gak suka sama istilah foto AI, seberapapun “hyper realistic” foto dari AI, pada dasarnya itu adalah “Gambar”, bukan foto.

Foto adalah hasil dari kegiatan Fotografi atau Photography yang kalau diartikan secara harfiah artinya “melukis dengan cahaya”, kita membutuhkan cahaya yang nyata untuk menangkap gambar, lalu gambar yang dihasilkan juga adalah keadaan nyata, situasi nyata, orang yang nyata ada, rekaman kehidupan, itu lah Foto.

Beberapa orang sudah membuat tools memanfaatkan Generative Image AI LLM untuk membuat sesuatu yang disebut dengan “photorealism” atau apalah istilahnya, dimana menghasilkan “Foto” yang betul-betul terlihat nyata, beberapa mungkin merasa susah dibedakan dengan hasil foto asli dengan kamera.

Terus kenapa?

Ya gak kenapa-kenapa juga sih, cuma merasa aneh melihat kepopuler “Foto AI”, padahal seharusnya disebut “Gambar AI”.

Tapi selain itu juga timbul pertanyaan, kenapa orang mau membuat Gambar AI yang begitu real, terlihat begitu nyata, apalagi sampai dibagikan ke sosial media. Hal itu malah semakin mengukuhkan bahwa sosial media adalah fake, semakin gak bisa dipercaya mana yang beneran fake, mana yang fake nya sedikit.

AI coding trap

In 2025, many engineers are finding themselves for the first time in a position familiar to every tech lead: overseeing a brilliant but unpredictable junior engineer. Harnessing and controlling such talent, in a way that benefits effective team collaboration, is one of the primary challenges of engineering leadership. But AI coding agents need different management to junior engineers, because the nature of their productivity and growth is fundamentally different.

https://chrisloy.dev/post/2025/09/28/the-ai-coding-trap

Tulisan yang bagus, sampai bingung yang mana yang mau dikutip 😀

AI Agent untuk coding adalah Junior Engineer at best, dan biasanya tugasnya Senior Engineer untuk manage Junior, tapi di zaman sekarang ini, semua engineer jadi harus naik level jadi seperti Senior Engineer karena harus me-manage AI Agent untuk koding.

Itu bukan perkara mudah, biasanya seseorang menjadi Senior setelah pengalaman, sehingga bisa memahami konteks pekerjaan dan punya pemikiran yang lebih mendalam tentang suatu objek tugas.

AI Agent, punya banyak pengetahuan tentang “mengetik kode”, tapi konteks mereka terbatas, jadi perlu “Senior” untuk menjaga supaya mereka tetap ada dalam konteks yang sesuai requirement tugas.

Jadi gak serta merta ada AI Coding Agent, lalu tinggal prompt dan berharap hasil yang langsung berhasil, karena kalau gak dikontrol ya Agent hanya akan mengetik kode sesuai apa yang diminta tanpa mempertimbangkan hal di luar permintaan yang berpengaruh pada keberhasilan keseluruhan projek.

Gnome has been the best looking desktop for about 5 years now, with OS X in second place. KDE and Windows (after 7) are so far below that they’re a category of their own.

There’s many things to not like with Gnome, but they’ve got the user interface figured out. Contrast is correct both in light mode and dark mode. Readability is excellent. Margins and paddings are consistent across the board. Buttons, checkboxes and other gizmos look exactly as they should, with subtle shadows and 3D effects. Border radiuses are consistent and not to large.

Icons are not great, but that’s the same on all desktop environments now. OS X had great icons, but that age is over.

And since they have all the important basics correct, it is trivial to fix any short comings in the UI. The team deserves praise for what they’ve achieved.

https://news.ycombinator.com/item?id=45289528

https://news.ycombinator.com/item?id=45289773

Sebenarnya saya gak suka sih banding-bandingin teknologi atau benda atau apapun lah, tapi saya setuju sama user ini dan bisa dibilang jarang banget yang setuju di kalangan pengguna Linux, jadi bisa dibilang ini unpopular opinion, ya gak unpopular banget, tapi cukup langka.

Di dunia Linux, memang paling besar komunitas desktop Gnome dan KDE, dan saya rasa salah satu komen di thread itu menggambarkan dengan baik dimana Gnome itu untuk developer yang punya hobi atau sense design, jadi bisa lebih menghargai UI yang bagus memanjakan mata, dimana KDE itu full power user developer, dimana lebih suka fitur lengkap dan bisa dikontrol.

Perhatikan keduanya menggunakan tipe “developer” karena ya untuk level user biasa apalagi designer mungkin agak kureng, tapi ya saya tipe Gnome.

Pertama, terkait posisi IHSG yang sekarang sudah di level baru 8,000an, tapi kita sudah bahas sebelumnya bahwa posisi IHSG tersebut tidak mencerminkan arah pasar yang sesungguhnya, karena kenaikannya hanya ditopang oleh saham-saham tertentu saja, seperti saham DCII, DSSA, BRPT, dst. Sedangkan sebagian besar saham lainnya masih belum kemana-mana, atau bahkan turun dihitung sejak awal tahun 2025 lalu. Anda bisa baca lagi penjelasannya disini.

https://www.teguhhidayat.com/2025/09/ihsg-tembus-8000-prospeknya-setelah.html

Iya sejak berita pergantian Menteri Keuangan, isunya adalah IHSG akan jeblok, yang mana ya bener, tapi cuma itungan 1-2 hari, karena jujur aja sepertinya sekarang sudah makin banyak orang yang siap sedia ketika ada isu negatif seperti itu untuk ikut menangkap ambil kesempatan untuk malah beli, saya sendiri juga menunggu tapi akhirnya diurungkan karena ternyata turunnya gak banyak dibanding kenaikan beberapa waktu terakhir, jadi merasa belum waktunya.

Kemarin, yang ada IHSG malah naik ke level tertinggi, jadi bukannya jatuh lebih dalam malah cetak rekor.

Tapi bahasan pak Teguh Hidayat ini menarik juga, kenaikan ini ditopang oleh saham yang apa ya gak gorengan sih tapi saham dengan kenaikan yang tiba-tiba dan jadi overprice, seperti kena efek hype, melompat banyak dan menggeret keseluruhan IHSG, sedangkan saham blue chip asli sendiri yang tercermin pada indeks LQ45 masih belum kemana-mana, masih negatif malah.

Jadi masih susah menilai keadaan pasar.

Babysitting AI

“A recent report by content delivery platform company Fastly found that at least 95% of the nearly 800 developers it surveyed said they spend extra time fixing AI-generated code, with the load of such verification falling most heavily on the shoulders of senior developers.”

Malekzadeh estimates he spends around 50% of his time writing requirements, 10% to 20% of his time on vibe coding, and 30% to 40% of his time on vibe fixing — remedying the bugs and “unnecessary script” created by AI-written code.

https://techcrunch.com/2025/09/14/vibe-coding-has-turned-senior-devs-into-ai-babysitters-but-they-say-its-worth-it/

Ya menurut saya juga demikian, koding dengan AI itu bukannya mudah, untuk yang bukan programmer mungkin akan kebingungan, untuk junior programmer mungkin terlihat mudah tapi sebenarnya bahaya karena tidak menyadari adanya kesalahan logika koding yang tidak terlalu nampak kecuali beneran diperhatikan, dan jadi bom waktu di kemudian hari ketika harus debugging.

Sebagian besar yang bilang AI agent membantu untuk koding adalah programmer yang sudah lama berkecimpung di dunia programming sehingga benar tools tersebut sifatnya membantu, walaupun sebagian besar waktu dipakai untuk membuat prompt/requirements yang jelas dan juga melakukan review dan perbaikan manual jika dibutuhkan.