Gnome has been the best looking desktop for about 5 years now, with OS X in second place. KDE and Windows (after 7) are so far below that they’re a category of their own.

There’s many things to not like with Gnome, but they’ve got the user interface figured out. Contrast is correct both in light mode and dark mode. Readability is excellent. Margins and paddings are consistent across the board. Buttons, checkboxes and other gizmos look exactly as they should, with subtle shadows and 3D effects. Border radiuses are consistent and not to large.

Icons are not great, but that’s the same on all desktop environments now. OS X had great icons, but that age is over.

And since they have all the important basics correct, it is trivial to fix any short comings in the UI. The team deserves praise for what they’ve achieved.

https://news.ycombinator.com/item?id=45289528

https://news.ycombinator.com/item?id=45289773

Sebenarnya saya gak suka sih banding-bandingin teknologi atau benda atau apapun lah, tapi saya setuju sama user ini dan bisa dibilang jarang banget yang setuju di kalangan pengguna Linux, jadi bisa dibilang ini unpopular opinion, ya gak unpopular banget, tapi cukup langka.

Di dunia Linux, memang paling besar komunitas desktop Gnome dan KDE, dan saya rasa salah satu komen di thread itu menggambarkan dengan baik dimana Gnome itu untuk developer yang punya hobi atau sense design, jadi bisa lebih menghargai UI yang bagus memanjakan mata, dimana KDE itu full power user developer, dimana lebih suka fitur lengkap dan bisa dikontrol.

Perhatikan keduanya menggunakan tipe “developer” karena ya untuk level user biasa apalagi designer mungkin agak kureng, tapi ya saya tipe Gnome.

Pertama, terkait posisi IHSG yang sekarang sudah di level baru 8,000an, tapi kita sudah bahas sebelumnya bahwa posisi IHSG tersebut tidak mencerminkan arah pasar yang sesungguhnya, karena kenaikannya hanya ditopang oleh saham-saham tertentu saja, seperti saham DCII, DSSA, BRPT, dst. Sedangkan sebagian besar saham lainnya masih belum kemana-mana, atau bahkan turun dihitung sejak awal tahun 2025 lalu. Anda bisa baca lagi penjelasannya disini.

https://www.teguhhidayat.com/2025/09/ihsg-tembus-8000-prospeknya-setelah.html

Iya sejak berita pergantian Menteri Keuangan, isunya adalah IHSG akan jeblok, yang mana ya bener, tapi cuma itungan 1-2 hari, karena jujur aja sepertinya sekarang sudah makin banyak orang yang siap sedia ketika ada isu negatif seperti itu untuk ikut menangkap ambil kesempatan untuk malah beli, saya sendiri juga menunggu tapi akhirnya diurungkan karena ternyata turunnya gak banyak dibanding kenaikan beberapa waktu terakhir, jadi merasa belum waktunya.

Kemarin, yang ada IHSG malah naik ke level tertinggi, jadi bukannya jatuh lebih dalam malah cetak rekor.

Tapi bahasan pak Teguh Hidayat ini menarik juga, kenaikan ini ditopang oleh saham yang apa ya gak gorengan sih tapi saham dengan kenaikan yang tiba-tiba dan jadi overprice, seperti kena efek hype, melompat banyak dan menggeret keseluruhan IHSG, sedangkan saham blue chip asli sendiri yang tercermin pada indeks LQ45 masih belum kemana-mana, masih negatif malah.

Jadi masih susah menilai keadaan pasar.

“A recent report by content delivery platform company Fastly found that at least 95% of the nearly 800 developers it surveyed said they spend extra time fixing AI-generated code, with the load of such verification falling most heavily on the shoulders of senior developers.”

Malekzadeh estimates he spends around 50% of his time writing requirements, 10% to 20% of his time on vibe coding, and 30% to 40% of his time on vibe fixing — remedying the bugs and “unnecessary script” created by AI-written code.

https://techcrunch.com/2025/09/14/vibe-coding-has-turned-senior-devs-into-ai-babysitters-but-they-say-its-worth-it/

Ya menurut saya juga demikian, koding dengan AI itu bukannya mudah, untuk yang bukan programmer mungkin akan kebingungan, untuk junior programmer mungkin terlihat mudah tapi sebenarnya bahaya karena tidak menyadari adanya kesalahan logika koding yang tidak terlalu nampak kecuali beneran diperhatikan, dan jadi bom waktu di kemudian hari ketika harus debugging.

Sebagian besar yang bilang AI agent membantu untuk koding adalah programmer yang sudah lama berkecimpung di dunia programming sehingga benar tools tersebut sifatnya membantu, walaupun sebagian besar waktu dipakai untuk membuat prompt/requirements yang jelas dan juga melakukan review dan perbaikan manual jika dibutuhkan.

A new design with Liquid Glass. Beautiful, delightful, and instantly familiar.

https://www.apple.com/os/macos

Saya gak pernah tertarik dengan setiap rilis versi OS terbaru Mac OS, gak pernah update kecuali sudah lewat beberapa waktu lama dan ya cuma sekedar supaya OS tidak terlalu tertinggal.

Dari dulu alasannya sama, karena ya tidak banyak manfaat yang didapat, malahan lebih seringnya nge-bug, jadi tidak tertarik untuk update.

Semakin kesini kebanyakan fitur baru dari Mac OS versi terbaru itu dukungan konektivitas dengan perangkat Apple lain yang ya saya gak punya juga, makanya jadi gak kerasa update.

Untuk Tahoe, yang baru rilis ini, baca review nya juga makin banyak komplain, kebanyakan ya karena UI nya yang mengalami upgrade besar tapi sama sekali gak nyaman, baik dari penggunanaan maupun secara visual.

Rasanya dibawah ini video paling detail terkait update terbaru Mac OS Tahoe.

Atau kalau lebih suka versi artikel, Ars Technica sangat detail https://arstechnica.com/gadgets/2025/09/macos-26-tahoe-the-ars-technica-review/

Versi review dari Hackernews: https://news.ycombinator.com/item?id=45252378, dan ya tentu saja sangat bisa diperkirakan, banyak yang komplain / gak suka 😀

Apapun alasanya, tentu saja pada akhirnya akan tetap update, tapi sepertinya tidak dalam waktu dekat 🙂

The alleged benefit of vibe coding, which refers to the practice of building software with AI-coding tools without much attention to the underlying code, is that it allows anyone to build a piece of software very quickly and easily. As we’ve previously reported, in reality, vibe coded projects could result in security issues or a recipe app that generates recipes for “Cyanide Ice Cream.” If the resulting software is so poor you need to hire a human specialist software engineer to come in and rewrite the vibe coded software, it defeats the entire purpose. 

https://www.404media.co/the-software-engineers-paid-to-fix-vibe-coded-messes

Menarik, jadi pada akhirnya tetap butuh ‘human dev’ untuk membenarkan masalah yang dibuat dari koding dengan AI, dan memang saya rasakan sendiri setelah beberapa bulan kebelakang ‘vibe coding’, saya masih tetap harus benerin dan optimalisasi beberapa hal karena ya banyak yang gak sinkron, apalagi kalau sudah mulai besar codebase dan context AI Agent sudah berganti.

Thread menarik juga di Reddit What’s the point of vibe coding if I still have to pay a dev to fix it?

Terus video ini juga menarik They’re lying to you about Vibe Coding,

Saya juga setuju dengan penutup artikel tersebut:

Sohni told me he thinks vibe coding is not going anywhere, but neither are human developers. 

yeap.

I was at a talk at FOSDEM this year and they were talking about how most emails now (over 90%) are transactional in nature and not personal. Things like password resets, offers, 2fa, shipping confirmations.

This was a lightbulb moment for me – for years I’d been trying to fight email by using sieve to filter away the most annoying senders and subjects but they’re right – almost all email doesn’t deserve your immediate attention.

I switched my method to whitelist. I created a folder called Transactional and everything goes in there. Then I started whitelisting certain email addresses to let them get to my inbox. I have around 20, and for the first time in years I’m at a point where I could have notifications for my inbox. I still don’t, but they’d be useful now

https://news.ycombinator.com/item?id=45174012

Ide menarik dan kenapa saya gak kepikiran. Saya pengguna aktif Gmail filter, fungsinya untuk otomatis nge-filter email yang masuk, dan memasukkannya ke kategori/label yang sesuai, saya punya label newsletter, notification, dan finance.

Karena memang beberapa email perlu saya pantau, email transaksi perbankan, email tagihan server, domain, email uptime, saya masih monitor via email.

Tapi kelemahannya beberapa email baru tetep masuk ke Inbox dulu, bikin penuh, dan kadang jadi kelewatan email yang beneran penting karena ya kebanyakan emailnya.

Kenapa gak kepikiran seperti ini, sistemnya whitelist, semua kena filter masuk ke satu kategori, baru dari situ kalau ada yang dirasa penting dan perlu tau baru di filter keluar.

Eh tapi sepertinya masalah ya, karena kalau gini by default “email penting” masuk ke filter ini dulu, baru mesti nyari buat ngeluarin, tapi toh saya rasa sampai saat ini belum ada kabar penting yang urgent perlu segera di respons datang, pasti pengirim mengkabarkan duluan via messaging lain duluan, jadi sepertinya gak masalah.

To be clear: it appears it is legal, at least in the USA, to buy a used copy of a physical book (used = the author gets nothing), chop the spine off, scan the pages, discard the paper copy and then train on the scanned content. The transformation from paper to scan is “fair use”.

https://simonwillison.net/2025/Sep/6/anthropic-settlement/#atom-everything

Menarik, jadi seperti itu sistem “fair use” untuk penggunaan bahan ajar LLM untuk AI tools. Jadi perusahaan bisa beli buku 2nd hand, scan dan dijadikan bahan pengetahuan AI.

Tentu saja ini belum termasuk paper research, artikel internet, forum, blog dan berbagai informasi di internet.

Oh btw, kalau mau rekap mengenai kasus denda Anthropic terkait penggunaan buku-buku secara tidak resmi sebagai bahan ajar LLM, bisa dilihat disini: https://pxlnv.com/linklog/anthropic-proposed-settlement/

Prompt engineering acts as a bridge between humans and machines. To be more precise, prompt engineering is the process of creating and refining the instructions given to an AI model to improve the accuracy and relevance of its responses. Because systems like ChatGPT and Claude generate outputs based on the way prompts are phrased, even small changes in wording, structure, or context can have a significant impact on results.

By designing high-quality prompts, users can help AI models produce outputs that align with specific goals, whether that’s generating content, automating business tasks, or solving technical problems.

https://www.couchbase.com/blog/prompt-engineering/

Artikel yang berisi penjelasan detail terkait Prompt Engineering, yang mana tldr nya adalah: kita sebagai si prompter perlu menulis perintah dengan detail, runtut, dan jelas supaya AI tools bisa melakukan eksekusi yang kita minta dengan tepat. Walaupun begitu masih bisa mungkin untuk AI salah mengerjakan dan kita harus lebih menguraikan lagi prompt kita sampai berhasil.

Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin skill dan keahlian Prompt Engineering ini perlu dipelajari semua orang bukan hanya untuk AI, tapi untuk rekan kerja, atau orang sekitar kita. Karena “ternyata dan mengejutkan”, kalau kita memberi informasi atau bertanya atau minta tolong dengan informasi yang detail, runtut dan jelas maka mungkin akan meningkatkan kesuksesan permintaan yang diberikan.

Ironis ketika berhadapan dengan AI kita detail dan rinci, tapi jika dengan orang lain informasi kita kadang tidak lengkap, lalu kaget karena salah paham 🙂

Some years ago, building a side project meant finding time wherever you could. Late nights, weekends, or early mornings to squeeze in some work before your real job starts.

Now, with tools like Claude Code, the paradigm has shifted. The cost of creating software is much cheaper. What used to take months now takes days. You can do most of your basic features with AI if you use a well-known framework with good standards. But what does this mean?

https://josem.co/side-projects-and-ai

Ha, bener banget, dengan adanya AI agent jadi bantu banget buat bikin side project, 2 dari “projek mainan” saya plus website nya di labs.yogasukma.com adalah hasil kolaborasi dengan AI tools.

Coding is fun, coding for side project even more fun, tapi setelah bertahun-tahun koding, akhirnya sampai di titik jenuh juga, dan AI tools seperti Claude, Copilot, dan lainnya membantu mempercepat mengeksekusi ide yang ada di kepala.

Biasanya perlu nunggu weekend dan menghabiskan waktu 1-2 hari atau malah lebih untuk side project,sekarang jadi lebih cepat selesai dan ya bisa memanfaatkan weekend lebih baik untuk kegiatan lain daripada duduk depan laptop.

Tapi so far masih untuk ‘mainan’, belum beneran profitable sideproject, gpp, yang penting mindset maker nya dulu 🙂

I’ve worked on it from my Mac, my iPad and my Linux machine and been able to write where I want, when I want. That’s a far cry from my Hugo site in which anything but the most basic of posts would have to wait until I could get to my personal Mac.

https://chriswiegman.com/2025/08/one-week-with-a-cms/

Chris melakukan migrasi dari sebelumnya menggunakan Hugo ke WordPress (lagi), dan ya walaupun Chris lebih fokus ke kemudahaan penggunaan CMS dibanding flat file website seperti Hugo, tapi ya ini juga yang saya rasakan ketika menggunakan WordPress.

Kebanyakan developer beralih dari WordPress dan memilih menggunakan flat file CMS seperti Hugo, Eleventy dan lainnya, tapi saya sendiri masih tetap menggunakan WordPress karena kelebihan yang ditawarkan sebuah CMS, seperti Chris bilang diatas, saya bisa posting melalui laptop, pc, tablet, handphone, gak perlu build system, compilation, git push pull, nope, just write and publish.

Terlebih untuk WordPress, ada banyak provider diluar sana yang murah, saya bahkan cuma perlu bayar Rp. 600.000 untuk 4 tahun, dibanding dengan selfhost, harga VPS saja berapa, dan saya tidak perlu pusing ngurusin maintenance, optimasi dan perfomance, semua sudah dihandle. Harga yang murah menurut saya, apalagi untuk keperluan personal. Sudah termasuk kemudahan untuk publish post dari mana saja.

Hard to beat I say.