Laravel Forge telah diperbarui dan saya suka desain nya, sama seperti produk Laravel lain, tampilannya fresh, clean, dan ya modern minimalist saja.

Saya lebih suka Laravel Forge ini dibanding dengan Laravel Cloud, karena ya kecuali kamu punya projek super besar global baru Cloud kerasa membantu, untuk yang masih level nasional doang mending Forge deh.

So today, we’re launching a new social iOS app just called “Sora,” powered by Sora 2. Inside the app, you can create, remix each other’s generations, discover new videos in a customizable Sora feed, and bring yourself or your friends in via cameos. With cameos, you can drop yourself straight into any Sora scene with remarkable fidelity after a short one-time video-and-audio recording in the app to verify your identity and capture your likeness.

https://openai.com/index/sora-2

Social app, isinya galeri video yang dibuat dari AI, pada dasarnya ini TikTok, tapi kontennya dari AI.

Kebayang gak sih, sosial media yang ada aja penuh kepalsuan, yang ini malah bener-bener gak real 🤔

Seriusan deh, saya bukannya anti AI, tapi AI seharusnya membantu melakukan hal yang biasa, mundane, supaya kita bisa fokus mengerjakan hal yang menyenangkan mengasah pikiran meningkatkan kreativitas, tapi yang ramai malah AI mengambil alih sisi kreativitas, yang tadinya orang punya skil dan interest untuk seni seperti menggambar, fotografi, membuat video dan lainnya, sepertinya lama-lama skill tersebut hilang diganti skill mengetik perintah prompt. suram.

Saya gak suka sama istilah foto AI, seberapapun “hyper realistic” foto dari AI, pada dasarnya itu adalah “Gambar”, bukan foto.

Foto adalah hasil dari kegiatan Fotografi atau Photography yang kalau diartikan secara harfiah artinya “melukis dengan cahaya”, kita membutuhkan cahaya yang nyata untuk menangkap gambar, lalu gambar yang dihasilkan juga adalah keadaan nyata, situasi nyata, orang yang nyata ada, rekaman kehidupan, itu lah Foto.

Beberapa orang sudah membuat tools memanfaatkan Generative Image AI LLM untuk membuat sesuatu yang disebut dengan “photorealism” atau apalah istilahnya, dimana menghasilkan “Foto” yang betul-betul terlihat nyata, beberapa mungkin merasa susah dibedakan dengan hasil foto asli dengan kamera.

Terus kenapa?

Ya gak kenapa-kenapa juga sih, cuma merasa aneh melihat kepopuler “Foto AI”, padahal seharusnya disebut “Gambar AI”.

Tapi selain itu juga timbul pertanyaan, kenapa orang mau membuat Gambar AI yang begitu real, terlihat begitu nyata, apalagi sampai dibagikan ke sosial media. Hal itu malah semakin mengukuhkan bahwa sosial media adalah fake, semakin gak bisa dipercaya mana yang beneran fake, mana yang fake nya sedikit.

In 2025, many engineers are finding themselves for the first time in a position familiar to every tech lead: overseeing a brilliant but unpredictable junior engineer. Harnessing and controlling such talent, in a way that benefits effective team collaboration, is one of the primary challenges of engineering leadership. But AI coding agents need different management to junior engineers, because the nature of their productivity and growth is fundamentally different.

https://chrisloy.dev/post/2025/09/28/the-ai-coding-trap

Tulisan yang bagus, sampai bingung yang mana yang mau dikutip 😀

AI Agent untuk coding adalah Junior Engineer at best, dan biasanya tugasnya Senior Engineer untuk manage Junior, tapi di zaman sekarang ini, semua engineer jadi harus naik level jadi seperti Senior Engineer karena harus me-manage AI Agent untuk koding.

Itu bukan perkara mudah, biasanya seseorang menjadi Senior setelah pengalaman, sehingga bisa memahami konteks pekerjaan dan punya pemikiran yang lebih mendalam tentang suatu objek tugas.

AI Agent, punya banyak pengetahuan tentang “mengetik kode”, tapi konteks mereka terbatas, jadi perlu “Senior” untuk menjaga supaya mereka tetap ada dalam konteks yang sesuai requirement tugas.

Jadi gak serta merta ada AI Coding Agent, lalu tinggal prompt dan berharap hasil yang langsung berhasil, karena kalau gak dikontrol ya Agent hanya akan mengetik kode sesuai apa yang diminta tanpa mempertimbangkan hal di luar permintaan yang berpengaruh pada keberhasilan keseluruhan projek.

Kemarin suntuk banget, jadi buka-buka sosmed dan entah gimana algoritma saya, tau-tau saya dapet postingan dengan narasi kurang lebih “Pertamina jual pertamax lebih mahal tapi tetap rugi, sedangkan Malaysia (Petronas) jual lebih murah malah untung besar”, dan ini menarik buat …

Selengkapnya

Gnome has been the best looking desktop for about 5 years now, with OS X in second place. KDE and Windows (after 7) are so far below that they’re a category of their own.

There’s many things to not like with Gnome, but they’ve got the user interface figured out. Contrast is correct both in light mode and dark mode. Readability is excellent. Margins and paddings are consistent across the board. Buttons, checkboxes and other gizmos look exactly as they should, with subtle shadows and 3D effects. Border radiuses are consistent and not to large.

Icons are not great, but that’s the same on all desktop environments now. OS X had great icons, but that age is over.

And since they have all the important basics correct, it is trivial to fix any short comings in the UI. The team deserves praise for what they’ve achieved.

https://news.ycombinator.com/item?id=45289528

https://news.ycombinator.com/item?id=45289773

Sebenarnya saya gak suka sih banding-bandingin teknologi atau benda atau apapun lah, tapi saya setuju sama user ini dan bisa dibilang jarang banget yang setuju di kalangan pengguna Linux, jadi bisa dibilang ini unpopular opinion, ya gak unpopular banget, tapi cukup langka.

Di dunia Linux, memang paling besar komunitas desktop Gnome dan KDE, dan saya rasa salah satu komen di thread itu menggambarkan dengan baik dimana Gnome itu untuk developer yang punya hobi atau sense design, jadi bisa lebih menghargai UI yang bagus memanjakan mata, dimana KDE itu full power user developer, dimana lebih suka fitur lengkap dan bisa dikontrol.

Perhatikan keduanya menggunakan tipe “developer” karena ya untuk level user biasa apalagi designer mungkin agak kureng, tapi ya saya tipe Gnome.

Pertama, terkait posisi IHSG yang sekarang sudah di level baru 8,000an, tapi kita sudah bahas sebelumnya bahwa posisi IHSG tersebut tidak mencerminkan arah pasar yang sesungguhnya, karena kenaikannya hanya ditopang oleh saham-saham tertentu saja, seperti saham DCII, DSSA, BRPT, dst. Sedangkan sebagian besar saham lainnya masih belum kemana-mana, atau bahkan turun dihitung sejak awal tahun 2025 lalu. Anda bisa baca lagi penjelasannya disini.

https://www.teguhhidayat.com/2025/09/ihsg-tembus-8000-prospeknya-setelah.html

Iya sejak berita pergantian Menteri Keuangan, isunya adalah IHSG akan jeblok, yang mana ya bener, tapi cuma itungan 1-2 hari, karena jujur aja sepertinya sekarang sudah makin banyak orang yang siap sedia ketika ada isu negatif seperti itu untuk ikut menangkap ambil kesempatan untuk malah beli, saya sendiri juga menunggu tapi akhirnya diurungkan karena ternyata turunnya gak banyak dibanding kenaikan beberapa waktu terakhir, jadi merasa belum waktunya.

Kemarin, yang ada IHSG malah naik ke level tertinggi, jadi bukannya jatuh lebih dalam malah cetak rekor.

Tapi bahasan pak Teguh Hidayat ini menarik juga, kenaikan ini ditopang oleh saham yang apa ya gak gorengan sih tapi saham dengan kenaikan yang tiba-tiba dan jadi overprice, seperti kena efek hype, melompat banyak dan menggeret keseluruhan IHSG, sedangkan saham blue chip asli sendiri yang tercermin pada indeks LQ45 masih belum kemana-mana, masih negatif malah.

Jadi masih susah menilai keadaan pasar.

“A recent report by content delivery platform company Fastly found that at least 95% of the nearly 800 developers it surveyed said they spend extra time fixing AI-generated code, with the load of such verification falling most heavily on the shoulders of senior developers.”

Malekzadeh estimates he spends around 50% of his time writing requirements, 10% to 20% of his time on vibe coding, and 30% to 40% of his time on vibe fixing — remedying the bugs and “unnecessary script” created by AI-written code.

https://techcrunch.com/2025/09/14/vibe-coding-has-turned-senior-devs-into-ai-babysitters-but-they-say-its-worth-it/

Ya menurut saya juga demikian, koding dengan AI itu bukannya mudah, untuk yang bukan programmer mungkin akan kebingungan, untuk junior programmer mungkin terlihat mudah tapi sebenarnya bahaya karena tidak menyadari adanya kesalahan logika koding yang tidak terlalu nampak kecuali beneran diperhatikan, dan jadi bom waktu di kemudian hari ketika harus debugging.

Sebagian besar yang bilang AI agent membantu untuk koding adalah programmer yang sudah lama berkecimpung di dunia programming sehingga benar tools tersebut sifatnya membantu, walaupun sebagian besar waktu dipakai untuk membuat prompt/requirements yang jelas dan juga melakukan review dan perbaikan manual jika dibutuhkan.

A new design with Liquid Glass. Beautiful, delightful, and instantly familiar.

https://www.apple.com/os/macos

Saya gak pernah tertarik dengan setiap rilis versi OS terbaru Mac OS, gak pernah update kecuali sudah lewat beberapa waktu lama dan ya cuma sekedar supaya OS tidak terlalu tertinggal.

Dari dulu alasannya sama, karena ya tidak banyak manfaat yang didapat, malahan lebih seringnya nge-bug, jadi tidak tertarik untuk update.

Semakin kesini kebanyakan fitur baru dari Mac OS versi terbaru itu dukungan konektivitas dengan perangkat Apple lain yang ya saya gak punya juga, makanya jadi gak kerasa update.

Untuk Tahoe, yang baru rilis ini, baca review nya juga makin banyak komplain, kebanyakan ya karena UI nya yang mengalami upgrade besar tapi sama sekali gak nyaman, baik dari penggunanaan maupun secara visual.

Rasanya dibawah ini video paling detail terkait update terbaru Mac OS Tahoe.

Atau kalau lebih suka versi artikel, Ars Technica sangat detail https://arstechnica.com/gadgets/2025/09/macos-26-tahoe-the-ars-technica-review/

Versi review dari Hackernews: https://news.ycombinator.com/item?id=45252378, dan ya tentu saja sangat bisa diperkirakan, banyak yang komplain / gak suka 😀

Apapun alasanya, tentu saja pada akhirnya akan tetap update, tapi sepertinya tidak dalam waktu dekat 🙂